Skip to main content

Posts

Change Management

Recent posts

Merger di Industri Perbankan

"Merger", adalah kosa kata yang  lekat dalam kehidupan professional saya selaku bankir. Sepanjang yang dapat saya ceritakan, dua kali  mengalami fenomena merger selama  saya bekerja di industri keuangan dan perbankan. Dari dua kejadian merger, saya belajar banyak hal dalam waktu yang cepat, dengan tantangan dan peluang yang berbeda pada setiap kejadiannya.

Merger yang pertama saya alami ketika masih bekerja di Bank Bali. Kala itu, Bank Bali merger dengan Bank Universal, Prima Express, Arta Media dan Patriot. Hasilnya? PermataBank yang lebih dikenal oleh masyarakat saat ini.

Merger yang kedua, saya alami dan ikuti saat ini, dimana Bank Saudara bergabung dengan Bank Woori Indonesia. Menjadi Bank Woori Saudara Indonesia, Tbk dan berusaha untuk dapat  dikenal oleh masyarakat sebagai "BWS".

Untuk sebuah forum terbatas, dalam personal blog ini,  saya kira yang paling penting untuk dijadikan catatan  untuk tercapainya tujuan merger adalah sebagai berikut:

Clear Platform St…

Jujur Mata Uang Paling Bernilai di Dunia

Tulisan ini, terinspirasi dari  tiga kejadian, yang saya dan keluarga  alami di tiga  tempat yang berbeda. Pertama, pengalaman istri yang ketinggalan dompet ketika nonton di XXI  Summarecon Mall Bekasi (SMB). Kedua, saya "kehilangan" kacamata ketika mengambil air wudhu dan mau Sholat, tentu saja di Musholla pacific Place, kawasan SCBD. Ketiga, Tasya, putri  saya ketinggalan I Pad di Counter Bakmi GM Margo City, Depok.

Dari tiga  kejadian tersebut, saya memiliki keyakinan dan rasa percaya yang sangat tinggi, sejatinya masing - masing kita, manusia Indonesia memiliki sifat jujur. Sebagaimana yang sering dibanggakan oleh teman - teman saya yang pernah tinggal, atau rekreasi di Negara Sakura, Jepang. Mereka bercerita bahwa, seringkali melihat banyak barang - barang tertinggal di stasiun shinkansen, yang tidak diambil oleh mereka yang lalu lalang, karena sadar bahwa itu bukan barang miliknya. Sehingga dibiarkan berada ditempatnya untuk kemudian diamankan oleh petugas yang sedan…

Pilpres 2014: Kontroversi Quick Count

Oleh : Ibnu Agung Mulyanto Kemarin tanggal 9 Juli 2014 menjadi tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia. Pemilihan Presiden yang dilakukan secara langsung dalam skala terbesar ketiga di dunia, berhasil dilakukan secara lancar dan aman. Saya dan istri pun berpartisipasi dengan memilih calon presiden pilihan kami di TPS 032 Cilandak Barat, Jakarta Selatan. Alhamdulillah.
Selepas dhuhur, media massa, baik televisi ataupun social media, mulai gencar memberitakan hasil “quick count“. Yang sampai pada akhirnya kubu Jokowi-JK mendeklarasikan “kemenangan” mereka setelah mendapatkan hasil “quick count“, diantaranya dari LSI, Cyrus Network, RRI, dan Litbang Kompas yang menyatakan Jokowi-JK meraih suara 52-53%, lebih tinggi 6-7% dari kubu Prabowo-Hatta Rajasa yang berkisar antara 46-47%.

Menariknya, selang satu jam kemudian, kubu Prabowo-Hatta gantian mendeklarasikan “kemenangan” mereka, karena berdasarkan hasil “quick count” dari lembaga-lembaga survey yang mereka “percaya”, ternyata menu…

Surat Terbuka Pabowo Subianto, 8 Juli 2014

Sahabat sahabatku dimanapun engkau berada,
Assalamualaikum Wr. Wb.

Bagi saudara-saudara sahabat-sahabatku yang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, saya ucapkan selamat melaksanakan ibadah puasa. Semoga dapat ditunaikan dengan sempurna dan amal ibadah anda diterima oleh Allah SWT.

Sahabatku sekalian, kurang lebih delapan belas jam lagi yaitu mulai jam 07.00 besok pagi tanggal 9 Juli 2014, seluruh bangsa kita akan melaksanakan pemilihan umum untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia untuk lima tahun kedepan, 2014 sampai 2019.
Kita patut bersyukur dan bangga bahwa negara kita adalah negara demokrasi ketiga terbesar di dunia. Kita sadar masih banyak kekurangan dalam pelaksanaan demokrasi kita. Pasti kita semua ada yang tidak puas terhadap penyelenggaraan demokrasi kita sampai sekarang.

Kitapun menyadari dan mewaspadai ancaman-ancaman terhadap demokrasi berupa upaya membohongi rakyat dan membeli suara secara besar-besaran.
Namun, sebagaimana saya berkali-kali…

Khilafah dan Demokrasi

Oleh: Adian Husaini

 Sebenarnya, masalah demokrasi bisa dibicarakan dengan lebih ilmiah. Istilah “demokrasi” tidak tepat didikotomikan dengan istilah “khilafah”. Tetapi, lebih tepat, jika “demokrasi” versus “teokrasi”. Sistem khilafah beda dengan keduanya. Sebagian unsur dalam sistem khilafah ada unsur demokrasi (kekuasaan di tangan rakyat) dan sebagian lain ada unsur teokrasi (kedaulatan hukum di tangan Tuhan). Membenturkan demokrasi dengan khilafah, menurut saya, tidak tepat.
Sistem demokrasi ada yang bisa dimanfaatkan

untuk dakwah, Karena adanya kebebasan berpendapat. Maka, Hizbut Tahrir justru berkembang ke negara-negara yang menganut sistem demokrasi, seperti di Indonesia. Di AS, Inggris, dsb, HT lebih bebas bergerak dibanding dengan di Arab Saudi. Karena itu, demokrasi memang harus dinikmati, selama tidak bertentangan dengan Islam. Itulah yang dilakukan oleh berbagai gerakan Islam, dengan caranya masing2. ada yang masuk sistem politik, ada yang di luar sistem politi…

DKP : Dibalik Kepentingan Prajurit