17 April, 2014

Investasi Bodong dalam Skema Ponzi



Beberapa minggu terakhir ini, kabar tentang banyaknya orang merugi lewat investasi yang menggiurkan begitu ramai. Sebagian diduga kuat ‘bodong’ alias perusahaan yang 'memutar dana investasi' tidak betul-betul menjalankan aktivitas bisnis seperti yang dijanjikan — sebuah kejahatan kerah putih. Kasus investasi bodong sudah sering terjadi di berbagai negara, salah satu yang terbesar ialah ‘investasi akal-akalan’ yang dijalankan oleh Bernard Madoff yang mengguncang ekonomi AS pada tahun 2008. Dalam pengadilan yang berlangsung pada tahun berikutnya, Madoff dijatuhi hukuman 150 tahun kurungan.


Untuk menuntaskan kasus penipuan investasi yang dianggap sebagai terbesar dalam sejarah AS ini dibutuhkan waktu bertahun-tahun, dan kesimpulan terakhir diambil pada 24 Maret 2014 lalu. Para juri di pengadilan Manhattan, New York, menyimpulkan bahwa perusahaan Madoff telah melakukan penipuan investasi secara sistematis. Madoff telah mempraktekkan Skema Ponzi secara masif selama 30 tahun dan kasusnya baru terungkap pada 2008.


Bagaimana Skema Ponzi bekerja? Kira-kira seperti ini:

Sebuah iklan menjanjikan return yang sangat besar kepada siapapun yang mau berinvestasi dalam sebuah bisnis, yakni 10% dalam waktu 30 hari. Orang yang tergiur oleh angka sebesar itu serta-merta akan terpikat oleh iklan ini. Mereka akan berebut berinvestasi, bahkan aset penting seperti rumahpun jika perlu diinvestasikan demi return 10% per bulan.


Angka sebesar itu sukar dicerna akal sehat. Darimana return 10% itu didapat? Inilah soalnya. Bisnis yang lumrah niscaya mustahil mendatangkan return sebesar itu dalam waktu yang sangat pendek. Maka, pemasang iklan yang menawarkan investasi itu akan memilih cara seperti ini: bila waktu 30 hari telah tiba, dan pembayaran return pertama sudah jatuh tempo, ia menggunakan uang yang disetor investor yang berinvestasi belakangan untuk membayar return bagi investor yang terdahulu.

Begitu menerima return 10% seperti yang dijanjikan, kepercayaannya semakin kuat dan investor ini terdorong untuk menaruh lebih banyak lagi uangnya. Kata-kata pujian mulai menyebar. Calon-calon investor lain ikut berebut peluang untuk menanamkan uangnya. Timbullah efek berantai. Semakin banyak orang berinvestasi, berarti uang masuk terus mengalir, dan perusahaan pengelola investasi ini masih bisa tenang membayar return untuk investor terdahulu.


Promotor investasi akan berusaha meminimalkan penarikan uang dengan menawarkan rencana baru bagi investor lama, tentu saja dengan iming-iming tak kalah menggiurkan. Promotor memperolah cash flow baru, sebab investor diberitahu bahwa mereka tidak boleh memindahkan uangnya dari rencana pertama ke rencana kedua. Jika sebagian investor ingin menarik uangnya sesuai aturan yang diperbolehkan, permintaan ini biasanya diproses, sehingga menimbulkan ilusi kepada seluruh investor bahwa dana mereka solvent (mudah dicairkan).

Kesulitan akan muncul ketika investasi baru berjalan lamban, dan promotor mulai kesusahan membayar return pada waktu yang dijanjikan. Semakin besar return yang dijanjikan, semakin besar peluang skema Ponzi ini ambruk dengan cepat. Begitu pembayaran return mulai terlambat, beritanya dengan cepat menyebar. Krisis likuiditas ini akan memicu kepanikan—menimbulkan efek domino, dan terjadilah rush, orang-orang meminta kembali uangnya pada waktu bersamaan.

***

Charles Ponzi adalah orang pertama yang mempraktekkan skema ini dalam skala besar, sebab itu nama Ponzi dipatrikan pada praktek ini. Sebenarnya, Ponzi bukan orang yang ‘menemukan’ skema ini. Charles Dickens, dalam novelnya Little Dorrit, 1857, sudah lebih dulu menggambarkan skema semacam ini kira-kira satu dekade sebelum Ponzi lahir. Sebelum Ponzi, William F. Miller, seorang penata buku keuangan yang bekerja di Brooklyn, AS, menggunakan skema serupa ini untuk mengumpulkan 1 juta dolar AS (1899) Ponzi meraup jauh lebih besar.


Ponzi dilahirkan di Lugo, Italia, 1882, dengan nama yang sangat panjang: Carlo Pietro Giovanni Guglielmo Tebaldo Ponzi. Kepada suratkabar New York Times, ia mengaku berasal dari keluarga sejahtera di Parma, Italia. Mula-mula Ponzi bekerja sebagai pekerja pos. Di usia 21 tahun, ia merantau ke Amerika Serikat dan tiba di pelabuhan Boston. “Saya mendarat di negeri ini dengan 2,5 dolar tunai dan 1 juta dolar harapan, dan harapan itu tak pernah meninggalkanku,” begitu cerita Ponzi belakangan kepada New York Times.


Ponzi belajar bahasa Inggris dengan cepat dan bekerja di Pantai Timur, sebagai pencuci piring. Tidur di lantai tidak masalah baginya. Oleh majikannya, ia dianggap bekerja dengan baik dan naik posisi menjadi pelayan, namun kemudian dipecat karena mencuri uang kembalian untuk pelanggan.

Ia lalu pindah ke Montreal, 1907, dan menjadi asisten teller di Banco Zarossi, sebuah bank yang dikelola Luigi Zarossi untuk melayani imigran Italia yang datang ke kota itu. Zarossi membayar bunga 6% untuk deposito—dua kali lipat suku bunga yang berlaku saat itu—dan banknya tumbuh cepat. Ponzi menjadi manajer bank. Namun, ia mengetahui bahwa bank itu sesungguhnya menghadapi persoalan keuangan serius sebab pengembalian pinjaman real estate berjalan seret, dan ia tahu Zarossi membiayai pembayaran bunga bukan dari keuntungan investasi, tapi dengan memakai uang yang didepositokan oleh nasabah baru. Bank itu akhirnya ambruk dan Zarossi lari ke Mexico dengan membawa sebagian besar uang bank.


Ponzi tetap tinggal di Montreal untuk sementara waktu di rumah Zarossi dan berusaha kembali ke AS. Suatu ketika ia mendatangi kantor bekas pelanggan Zarossi dan, karena ia tidak menemukan siapapun, ia menulis cek untuk dirinya senilai $423.580 dengan memalsukan tanda tangan direktur perusahaan itu. Saat ditanya polisi siapa yang mengeluarkan dana sebesar itu, Ponzi mengangkat tangannya dan berkata “Saya bersalah.” Ia mendekam tiga tahun di penjara dekat Montreal. Alih-alih memberitahu ibunya mengenai soal ini, ia mengirim surat yang mengatakan bahwa ia memperoleh pekerjaan sebagai “asisten khusus” penjaga penjara.


Setelah keluar dari penjara, 1911, ia memutuskan kembali ke AS, tapi terlibat dalam penyelundupan imigran ilegal Italia di perbatasan. Ia tertangkap dan mendekam dua tahun di penjara Atlanta. Di penjara ini ada tahanan lain yang menjadi role model Ponzi, yakni Charles W. Morse, pengusaha dan spekulator Wall Street yang makmur. Selepas dari penjara, Ponzi kembali ke Boston dan menikah dengan Maria Genecco, seorang stenografer (pasangan ini bercerai pada 1937).

Suatu ketika, Ponzi menerima surat dari perusahaan di Spanyol. Di dalam amplop terdapat International Reply Coupon (IRC). Ia mencari tahu apa kegunaan kupon ini. Seseorang di satu negara dapat mengirim kupon ini kepada orang di negara lain. Kupon ini dapat ditukarkan dengan prangko untuk mengirim surat kepada pengirim kupon.


Ketika itu inflasi sesudah Perang Dunia I menurunkan biaya pos di Italia sehingga kupon dapat dibeli dengan murah di Italia dan ditukarkan dengan perangko AS yang berharga lebih tinggi. Prosesnya: kirim uang ke luar negeri; belikan kupon dengan bantuan agen atau siapapun; kirim kupon ke AS; di AS, tukarkan kupon dengan prangko yang berharga lebih tinggi, lalu jual prangko tersebut. Inilah trik mengambil keuntungan dengan membeli aset pada harga rendah di suatu pasar dan segera menjualnya di pasar lain dengan harga lebih tinggi praktek yang tidak ilegal.


Ponzi mengintip adanya peluang keuntungan di sini. Ia membujuk kawan-kawannya agar menanamkan uang di bisnis kupon IRC dengan menjanjikan return 50% dalam 45 hari atau melipatduakannya dalam 90 hari. Untuk mempromosikan skema ini, ia mendirikan perusahaan sendiri, Securities Exchange Company. Banyak orang menggadaikan rumah mereka dan menginvestasikan tabungan mereka. Kebanyakan tidak mengambil keuntungannya dan menginvestasikan kembali. Bisnis ini mengubah Ponzi dari bukan siapa-siapa menjadi jutawan Boston yang termashur dalam waktu enam bulan.


Pada Mei 1920, Ponzi mengumpulkan $420.000 (setara dengan $4,59 juta pada 2008) — dua bulan kemudian ia sudah meraup lebih dari $1 juta. Ia mulai mendepositokan uang itu di Hanover Trust Bank of Boston, sebuah bank kecil di Hanover Street di North End yang banyak dihuni orang Italia, dengan harapan suatu ketika rekeningnya cukup besar sehingga ia bisa memaksakan kehendaknya atas bank itu atau bahkan menjadi presidennya. Faktanya, ia mengendalikan bunga di bank itu setelah mendepositokan $3 juta. Ponzi hidup mewah, membeli mansion di Lexington, Massachusetts, dengan kolam renang berpemanas. Ia mendatangkan ibunya dari Italia dengan kapal kelas satu. Cepat kayanya Ponzi mengundang kecurigaan. Suratkabar Boston Post menyelidiki praktek bisnis Ponzi dan kemudian menerbitkan hasil investigasinya. Clarence Barron, seorang analis keuangan di Boston, mengatakan bahwa mustahil Ponzi memberi return dari hasil investasi yang sebenarnya. Dalam perhitungan Barron, untuk membayar return sebesar itu, 160 juta kupon harus diputar, namun faktanya hanya sekitar 27 ribu kupon yang benar-benar beredar. Marjin keuntungan kotor untuk pembelian dan penjualan kupon memang besar, tapi menurut Barron, biaya overhead untuk mengurusnya melampaui keuntungan tersebut.



Laporan yang diterbitkan Boston Post itu menimbulkan kepanikan. Dalam tiga hari, Ponzi mengeluarkan $2 juta kepada kerumunan investor yang berkumpul di depan kantornya. Ia menyajikan kopi dan donat dan memberitahu mereka tak ada yang perlu dikhawatirkan. Situasi ini menarik perhatian Daniel Gallagher, jaksa di Massachusetts. Gallagher mulai mengaudit pembukuan Securities Exchange Company, namun menemui kesulitan sebab pembukuan Ponzi hanya berupa kartu indeks yang berisi nama-nama investor. Berkat ketekunan penegak hukum, akhirnya terungkap bahwa Ponzi sekurang-kurangnya berutang $7 juta. Berkat laporan investigasi mengenai Ponzi ini, Boston Post memperoleh Hadiah Pulitzer (1921).


Untuk kesekian kali, penjara sudah menanti Ponzi. Setelah melewati 3,5 tahun dari vonis lima tahun dalam penjara federal dan kemudian sembilan tahun di penjara negara bagian Massachusetts, Ponzi diusir dari Amerika Serikat. Ia kembali ke Italia. Setelah sempat bekerja untuk Benigto Mussolini, karena kecurangan dalam keuangan pemerintah ia dipaksa pergi ke Amerika Selatan. Di Brazil, ia bekerja serabutan dan jatuh miskin. Kesehatannya memburuk dan terkena serangan jantung pada 1941. Delapan tahun kemudian ia meninggal di Rio de Janeiro.

Dalam wawancara terakhirnya dengan wartawan Amerika di rumah sakit itu, Ponzi berkata, “Saya mencari persoalan, dan saya telah menemukannya.” ***

Sumber Asli: http://indonesiana.tempo.co/read/13582/2014/04/15/desibelku.1/investasi-bodong-dalam-skema-ponzi

10 February, 2014

Kisah tentang Anak Supir Angkot yang Jadi Direktur di New York


Melalui kisah ini, saya ingin mengajak Anda semua untuk berkelana : menengok sepotong perjalanan anak supir angkot yang kemudian menjadi direktur sebuah perusahaan global di New York. Inilah sebuah pengembaraan anak muda miskin dari sebuah desa kecil ditanah air, yang kemudian meretas karir sebagi top executive di jantung kota dunia, dalam keriuhan kota Manhattan yang berbinar -binar.

Inilah sebuah kisah tentang kegigihan, tentang impian yang tak sempat terucap, dan juga tentang makna ketekunan merajut nasib hidup. Kisah ini berawal dari anak muda bernama Iwan Setyawan. Ia lahir ditahun 1974 dari desa udik dipinggiran kota Malang. Ayahnya hanya sopir angkot, dengan penghasilan yang amat pas-pasan. Ibunya hanya ibu rumah tangga biasa, yang tak kenal letih membesarkan dan mendidik anak -anaknya dengan penuh kesederhanaan. 

Iwan menghabiskan masa kecil dan remajanya dalam hidup yang serba muram :lantai rumahnya hanyalah tanah tanpa tembok, ia harusberjualan makanan saat remaja demi menyambung biaya sekolahnya; dan ibu -nya berkali - kali menggadaikan apa yang ia punya hingga tandas. Semua demi menyambung hidup, demi membiayai pendidikan anak - anaknya. Ia lalu menebus lelakon hidup yang muram itu dengan ketekunan belajar yang luar biasa : tak kenal letih ia belajar ditemani lampu petromaks yang kian redup. Ia meretas prestasi yang mengesankan saat SMA, hingga ia mendapat PMDK untuk kuliah di jurusan Statistik, IPB Bogor.  

Dari sinilah, pelan - pelan tirai hidup yang lebih terang disibak. Selulus dari IPB, ia diterima bekerja di Nielsen Company, Jakarta : sebuah  perusahaan riset pemasaran global yang ternama. Lantaran prestasi kerjanya yang mencorong, ia kemudian di - tugaskan untuk bekerja di kantor pusat Nielsen  di New York. Selama 10 tahun ia berkelana di Manhattan, hingga mendudukui posisi Director, Client Management Nielsen Global Co.

Ada tiga serpihan pelajaran yang bisa diringkus dari kisah anak muda ini 
(yang kemudian ia tuliskan dalam novel realisme yang memukau berjudul 9 Summers 10 Autumns
: Dari Kota Apel ke the Big Apple).
Lesson # 1 : Education is the best investment in your life
Kisah mas Iwan menghadirkan semangat ini dengan nyaris sempurna. Ia tak akan
mungkin mendapatkan PMDK ke IPB kalau prestasi belajar SMA -nya abal - abal. 
Dan ia juga bisa diterima di Nielsen lantaran bekal sarjana statistik dari kampus IPB. 
Yang mengesankan adalah ketika ia bertekad menebus kemiskinannya itu dengan 
spirit belajar yang luar biasa : sejak ia sekolah SD hingga tamat kuliah, 
ia tak kenal lelah membaca buku - buku pelajaran/kuliah yang ia tekuni.
Lesson # 2 : Your Mother is Your Source of Success.
Dari kisah yang dinarasikan dengan indah oleh mas Iwan, kita bisa melihat betapa besar 
peran ibu dia dalam mendidik anak - anaknya (Iwan adalah anak ketiga dari lima bersaudara; 
dan semua kakak adiknya relatif sukses). Meski ibunya hanya menempuh pendidikan SD, 
namun ia menunjukkan talenta kecerdasaran ibu yang luar biasa : mengajarkan begitu banyak
tentang ketegaran hidup, tentang etos ketekunan, dan juga tentang keikhlasan merajut nasib.
Kelak ketika sudah menjadi eksekutif di kota New York, Iwan suka mengenang masa-masa 
kecilnya yang serba kekuarangan, mengenang ibunya yang harus menjual piring  demi
 sesuap nasi dan biaya sekolah anak - anaknya. Sambil memandang butiran salju
 dari jendela apartemennya di Manhattan, airmata anak muda itu sering luruh :
 ia selalu terkenang dengan kegigihan ibunya yang tak kenal lelah.

Lesson # 3 : Be Persistent in Pursuing Your Dreams
Meski dibesarkan dalam keluarga yang amat bersahaja, Iwan tak pernah surut membangun
mimpi untuk suatu saat bisa menjadi orang sukses. Himpitan kesulitan finansial saat 
menyelesaikan kuliah ia hadapi dengan penuh kesabaran. Ia selalu percaya; doa 
dari ibu, perjuangan ayahnya mengumpulkan nafkah, serta ikhtiar yang ia lakukan akan 
selalu bisa memberikan jalan keluar. Keteguhan hati yang kokoh membuat ia bisa terus 
menjalani tantangan hidupnya dengan penuh rasa optimisme : bahwa suatu hari nanti 
saya insya Allah akan bisa meraih apa yang saya cita - citakan.
Demikianlah, tiga serpihan pelajaran yang bisa kita petik dari perjalanan hidup 
mas Iwan Setyawan. Tiga serpihan yang mungkin layak kita kenang selalu.


Sumber Asli :
http://strategimanajemen.net/2014/01/20/
download-my-new-book-10-esai-inspiratif-yang-akan-mengubah-mindset-mu-untuk-selamanya/