23 April, 2008

Menjadi Gubernur Cara Gue

"...PERMIOS, SEUEUR WARTOS HAREWOS KA PRIBADOS, TI KAWIT ANAK KOS, TUKANG BANDROS, PADAMEL POS, DUGI KA TUKANG SAOS, NYARIOS PAMINGPIN NU ENTOS2 TE KAHARTOS, TEU KARAOS, TEU BUKTOS, UKUR DAGANG WAOS, HAWATOS! NALIKA NYALON DEUI NEMBE SEUEUR BAKSOS. API2 BAGEUR NGABAGI KAOS SARENG ARTOS.. TOS SEPUH MAH KEDAH EMOT KANA WAKTOS, KEDAH RUMAOS TOS KOROPOS, KA AKHERAT BUTUH ONGKOS. WIOS AYEUNA MAH NU NGORA SIAP NGAGENTOS. HADE NOMOR 3 NUKUDU DICOBLOS. OKE BOS...?"

Hari ini, KPUD Jawa Barat, secara resmi mengumumkan pasangan Hade sebagai pemenang Pilkada untuk Gubernur dan Wakil Gubernur periode 2008 -2013. Selamat! Semoga kepercayaan yang telah diberikan pemilih dapat dijaga dengan sebaik-baiknya.
Menggunakan merek dan janji sebagai pemimpin muda kala kampanye, tentu harus diikuti dengan fakta. Kaum muda identik dengan keberanian untuk mengerjakan dan menggagas hal -hal baru, berfikir dan bertindak cepat dan tentu saja punya stok tenaga yang relative tidak ada habisnya. Dia akan terus bergerak dan menawarkan hal - hal aneh dan berbeda dari yang biasa kita lihat.
Disisi lain, birokrasi tetap birokrasi, ada tata aturan dan prosedur yang [kadang harus dihormati] karena ada pihak atau lembaga lain yang juga terlibat dalam aturan itu. Jadi, kita pun harus mengerti ini. Tantangannya kemudian, bagaimana birokrasi mampu mengakomodir cara dan kebutuhan pemimpin muda untuk merealisasikan model kepemimpinannya, memimpin cara gue! Cepat dan gak pake ribet. Realitas bahwa yang punya energi dan keinginan untuk menjadi muda hanya 2 (dua) orang dari ribuan aparatur Pemda Provinsi Jawa Barat, adalah agenda paling awal yang harus diselesaikan. Bagaimana menciptakan perubahan - perubahan kecil yang membuat aparatur "ngeh" dan melek, bahwa pemimpin baru memang sungguh - sungguh berbeda. Berani untuk menyederhanakan aturan protokole dapat dimulai dengan jangan terlalu sering pake baju safari yang ada "jengkol"nya. Persempit rentang atau rantai proses pembuatan keputusan yang mengerucut kepada Jawa Barat 1 dan 2 , dengan cara menyebarkan tanggungjawab kepada lebih banyak orang setingkat dibawahnya. Dan pastikan, tiap - tiap dinas yang ada dilingkungan kantor gubernur, setidaknya , membuat proses kerja yang lebih praktis dan cepat dari sebelumnya.
Kemudian, Jawa Barat tentu saja bukan hanya Bandung, Cirebon dan Purwakarta. Dia juga sampai ke Cinere dan Depok, rajin -rajinlah berkunjung kedaerah yang berbatasan dengan provinsi lain. Mengapa? acapkali, daerah - daerah perbatasan tidak terjamah karena masing-masing merasa ada yang mengurusnya. Jawa Barat menilai, bahwa Cinera pasti diurus oleh DKI, hal yang sama terjadi sebaliknya. Sehingga, pada galibnya tidak ada satupun yang serius mengurus infrastruktur di daerah perbatasan. Padahal kita tahu, untuk kondisi Cinere, banyak orang-orang yang bekerja di lingkungan pusat kekuasaan tetapi berdomisili di Jawa Barat. Sehingga, kinerja gubernur Jawa Barat akan segera menjadi obrolan orang-orang Jakarta, melalui kualitas infrastruktur yang ada.
Popularitas dan gen selebritis yang masih disandang Dede Yusuf, semoga menjadi katalisator untuk mampu mempercepat munculnya "keEdanan-keEdanan" ala bobotoh Persib, yang kreatif dan segar. Jadikan birokrasi sebagai ajang untuk berkreasi sehingga muncul terobosan -terobosan ala budak bandung. Melayani masyarakat dengan senyum, ramah dan penuh toleransi namun tetap disiplin ala tentara yang i kebetulan banyak terdapat di Cimahi. Selamat datang pemimpin muda, tunjukkan kalo cara elo beda!
"...Saur Dai di masigit oge, pilkada Jabar mah kudu Aman ameh hasilna Hade....."

01 April, 2008

Terimakasih Ma, I Love You


Minggu, 30 Maret 2008, adalah hari dimana Ibunda tersayang, Hj.Apong Paenusah, genap berusia enam puluh tahun. Bagi pengawai negeri sipil, enam puluh tahun adalah batas usia yang diberikan untuk mengakhiri pengabdiannya kepada negara. Jabatan terakhir yang berhasil diraihnya adalah Kepala Sekolah disalah satu Sekolah Dasar Negeri di Perumnas III Bekasi. Sebuah karir dan masa pengabdian panjang yang dimulai sebagai pengajar Taman Kanak- Kanak di Jatiluhur, kemudian Guru Taman Kanak - Kanak "Ketilang" di Bekasi, kemudian pindah menjadi Guru SD bersama dengan Bapak, sampai akhirnya menjadi Kepala Sekolah, Alhamdulillah.
Pengabdian sekaligus perjuangannya menjadi pegawai negeri, mengantarkan kami, lima orang anaknya dengan pencapaian sebagai berikut : saya, bekerja dan telah berkeluarga dengan tiga anak; Neni, adik saya sedang menempuh S2 Psikologi UNPAD , berkeluarga dengan dua anak; Ade, adik, selesai kuliah D3 dari Politeknik Negeri Bandung; Denny, adik saya [seharusnya] sedang menyelesaikan skripsi di FIKOM UNISBA, telah bekerja di salah satu harian Nasional, berkeluarga dan sedang menanti kelahiran jabang bayinya yang hari ini sekitar 19 minggu dan bungsu; Iif, adik bungsu saya, selesai kuliah dari FISIP UNPAD dan memulai karir kerjanya disalah satu penerbit kartu kredit kelompok finansial milik Amerika Serikat.
Yang istimewa dari kondisi diatas adalah, semua perjuangan untuk mengantarkan anak-anaknya berhasil sampai titik tersebut, dilakukannya seorang diri. Sejak Bapak meninggal tahun 1989,dimana saat itu saya lulus dari Sekolah Menengah Atas Negeri 1 di Bekasi, praktis semua biaya dan permasalahan yang dihadapi anak-anaknya, menjadi tanggung jawab, beban dan dipecahkan olehnya seorang diri.
Semoga, apa yang telah diabdikannya kepada Negara sekaligus bagi keluarga, menjadi bukti amanahnya beliau terhadap Allah SWT. Yang jauh lebih penting adalah kami anak-anaknya dapat membahagiakan beliau dengan cara sederhana seperti yang disampaikannya saat memberikan nasehat dalam rangkaian syukuran tersebut:
""Mamah ingin, anak-anak tetap hidup sesuai dengan syariat Allah, jangan tinggalkan
sholat. Doakan juga Mamah agar tetap sehat, namun jika harus menghadap Allah SWT, jangan sampai harus sakit yang akan memberatkan anak-anak Mamah dan keluarga yang lain"

Tentu saja, mendengar pesan demikian, membuat kami anak, cucu , menatu dan adik -adiknya yang datang dari Bandung, tak kuasa menahan air mata, sungguh betapa mulia hati Ibunda. Pujian atas dedikasi yang telah ditunjukkan sebagai anak tertua dari 11 bersaudara, mengalir atas perhatian, tanggung jawab serta pilihan menjalani hidup yang apa adanya, tidak mengada-ada, serta sifat adil dan kebijaksanaanya dalam membimbing beberapa adiknya yang ikut bertarung hidup di Bekasi, hingga akhirnya mampu meneruskan sekolah, bekerja, berkeluarga hingga saat ini.
Mah, tetap bahagia ya..menikmati hari pensiun. Mamah boleh kehilangan anak buah dan murid-murid SD yang mungkin akan dirindukan teriakan dan lari -lari kecilnya, sebagai anak-anak bangsa yang sekolah di sekolah yang Mamah pimpin. Mamah mungkin akan kehilangan sebagian kecil dari penghasilan yang Mamah terima untuk diberikan kepada cucu-cucu Mamah. Namun Mamah punya catatan dan kesan indah yang telah Mamah dengarkan sendiri dari Anak, Cucu dan Adik-Adik Mamah. Saatnya kini, menikmati hari Mamah dengan cara berbeda.
Selamat Ulang Tahun Mah, Selamat Menikmati Usia Keemasan dengan lebih banyak kesempatan yang untuk mempersiapkan bekal untuk perjumpaan dengan Bapak di Surga. Insyaallah

13 March, 2008

Pujian untuk Indonesia

Sudah lama, bangsa ini tidak mendapat pujian! Terakhir kita dipuji sebagai "macan Asia", bersama dengan Thailand, Malaysia dan China. Yang menjadi "macan beneran" ternyata cuma China, karena secara mengejutkan unjuk kinerja dan mulai berani menantang Amerika Serikat di sektor ekonomi. Sementara kita, harus sabar dan kembali bekerja keras, sehingga pujian sebagai macan Asia menjadi realita.


Dalam kunjungan kenegaraan, Presiden SBY mendapat pujian dari Ahmadinejad, Presiden Iran. Beliau memuji pemerintah Indonesia atas pilihan sikapnya untuk abstain dalam sidang Dewan Keamanan PBB, terkait dengan voting terhadap hukuman tahap III PBB, khususnya Dewan Keamanan, karena Iran dinilai bandel tetap mengembangkan teknologi nuklir. Pujian ini, layak kita terima, karena komitmen untuk melaksanakan amanat UUD dalam melaksanakan hubungan luar negeri yang menyatakan, kita memiliki azas Bebas Aktif . Saya sangat menikmati foto bagaimana Marty Natalegawa mengacungkan tangannya sendirian ditengah anggota Dewan Keamanan yang lain.


Pujian yang lain, layak kita berikan kepada Ibu Siti Fadilah Supari, Menteri Kesehatan, yang telah berani dan bersuara lantang menentang protokol / kebijakan World Health Organization (WHO). Mekanisme kerja Global Influenza Surveilance Network (GISN), masih menurut Ibu Menteri, sewenang-wenang memperlakukan negara berkembang. Keberanian beliau, menuntut perlakuan yang adil atas hak negara berkembang terhadap negara maju untuk mendapatkan vaksin dari sampel virus Avian Influenza, pada akhirnya harus diperjuangkan sendiri, sebagai bangsa di forum WHO. Ini langkah dan keberanian luar biasa yang ditunjukkan bangsa ini, sehingga protes beliau mendapat tanggapan yang serius dan akhirnya mampu mengubah mekanisme kerja GISN yang telah berjalan kurang lebih 40 tahun. Luar biasa.


Tentu, masih banyak prestasi bangsa ini yang akan menuai pujian. Kita tahu dan percaya, kita terlahir sebagai bangsa yang merdeka karena berjuang: berjuang merebut kemerdekaan dan sekaligus tetap berjuang mempertahankan kemerdekaannya. Catatan dan bukti sejarah yang demikian, sejatinya terus mengalir dalam darah dan jiwa kita semua. Untuk sebuah keyakinan dan kepercayaan, bahwa kita harus menjadi bangsa yang lebih baik, yang lebih mampu memberikan kesejahteraan, keamanan, kemakmuran dan harkat martabat sebagai bangsa yang besar dan Merdeka. []

10 March, 2008

The Essence of Silaturahmi

The essence of silaturahmi, [kembali membuktikan manfaatnya] dan ternyata memang sehat bagi jiwa. Jiwa yang dahaga akan motivasi dan dukungan, jiwa yang haus akan penerimaan dan apresiasi. Karena dalam proses silaturahmi yang baik, tentu akan ditemukan sekaligus terpenuhinya kebutuhan manusia yang saya sebutkan tadi: dukungan dan penerimaan. Mendukung asa dan harapan yang diinginkan untuk dicapai oleh orang lain disaat yang bersamaan juga mampu menerima apa adanya keberadaan dan eksistensi orang yang menjadi teman silaturahmi kita. Kebermaknaan hidup akan tumbuh ketika keberadaan kita, bermakna bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Sekecil apapun kontribusi dan manfaat yang dapat kita berikan bagi orang lain tersebut.
Sabtu dan Minggu, 8-9 Maret 2008, Alhamdulillah beberapa perjalanan silaturahmi dapat dilakukan, dan saya bersama keluarga bersyukur kepada Allah SWT, masih diberi kekuatan dan kemampuan untuk melakukannya.
Bulutangkis, ya olahraga bulutangkis di Sport Center kompleks dimana saya tinggal saat ini, bersama tetangga kompleks lainnya dan seorang sekuriti. Sebuah aktifitas dan ritual Sabtu pagi, yang sayang kalo ditinggalkan. Silaturahmi yang menyegarkan jiwa, disamping segar karena berolahraga, pertemuan dengan tetangga ini juga membawa manfaat karena kita bisa berbagi apa saja yang terkait dengan kondisi keluarga masing-masing dan situasi perumahan. Kadang sharing permasalahan di tempat kerja yang kebetulan tidak sama profesi dan indstrinya. Berbagi masalah dan berbagi informasi. Yang terjadi dihari sabtu lainnya adalah kesempatan untuk meluapkan kekesalan dengan berteriak keras, kala shuttlecock tak berhasil dikembalikan atau ketika lawan main, lebih cermat menempatkan bola, menjadi cara tersendiri membangun jiwa dan semangat sportivitas. Bentuk silaturahmi kontemporer, saya membahasakannya.
Sabtu malam, memenuhi undangan dari salah seorang guru di bangku Sekolah Dasar, Ibu Sumiyati namanya. Beliau menikahkan putri keduanya dan mendapatkan suami dari Tasikmalaya. Kebahagiaan yang nampak dari raut wajahnya atas kehadiran muridnya, menghilangkan rasa lelah saya menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh, dari Limo-Depok ke Pedurenan, Bekasi. Sebuah tempat dimana saya tumbuh dan berkembang, sebelum saya tinggalkan karena kebutuhan untuk meneruskan kuliah di Bandung.
Minggu pagi menjelang siang, bersama dengan Tasya, Bulan dan Bintang (ketiganya adalah para malaikat kecil yang menghiasi hari-hari saya saat ini) , kami naik Honda, motor adik saya dan keliling ke beberapa tempat dimana saya biasa menghabiskan waktu senja kala kecil ketika hari sabtu dan hari libur lainnya. Hari Senin - Jum'at, selepas sekolah di SD Pedurenan, saya meneruskan mengaji di Madrasah Ibtidaiyah, Nurul Hidayah, namanya. Masih di Pedurenan, perjalanan menyusuri lapangan bola dan pematang sawah yang sekarang sudah tidak lagi berfungsi sebagai sawah untuk menanam padi, diteruskan dengan rute untuk bersepeda di kompleks perumahan Duren Jaya namanya, saya lalui dengan kenangan indah yang tentu saja tidak perlu saya ceritakan untuk anak-anak saya saat ini.
Minggu siang, makan siang bersama keluarga besar Rike dan Denny, kurang lebih 35-40an orang bersama menikmati makan siang yang dimasak sendiri. Ada yang kebagian masak nasi, rendang, perkedel, lalapan, sambal dan dan sejumlah penganan pelengkap serta buah - buahan lainnya. Semuanya mendapat tugas dan dikumpulkan menjadi sebuah menu istimewa siang ini. Semuanya memiliki acara pada siang ini, karena semuanya memberi kontribusi dalam bentuk makanan yang dikumpulkan dan dinikmati sama-sama. Sungguh indah dan membahagiakan. Kebahagiaan yang lain, tentu saja menjadi miliki Denny Achmad Furqon dan Rike Ramadiyanti, yang telah memiliki calon baby, karena dokter menyebutkan bilangan 4 bulan kepada jabang bayi yang dikandung Rike.
Terakhir minggu malam, berjumpa dengan para "sesepuh kampung" dan tetangga yang dibungkus dalam acara pengajian untuk mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas telah berusia 4 bulannya janin yang dikandung, Rike istri Denny Achmad Furqon, adik saya. Beberapa sahabat dan teman main saya ketika kecil, nampak hadir. Supangkat, adik angkatan sekolah dan ngaji saya, telah tumbuh menjadi asisten Ustadz untuk memimpir dzikir, sementara H. Arin Suherman, yang kala itu bekerja sebagai Satpam di Bridgeston / Lion, menikmati hari pensiunnya dengan menjadi ustadz dilingkungan saya ketika kecil, semoga menjadi khusnul khotimah, seperti Gitto Rollies. Nampak ada Doddy, dialah yang mengajari sekaligus meminjamkan sepedanya kepada saya, sehingga saya bahagia sekali bisa naik sepeda roda dua, pertama kali waktu itu.
Perjalanan silaturhmi yang saya lakukan dua hari itu, sungguh bermakna dan saya bahagia karenanya. Saya telah merasakan manfaat dari esensi silaturahmi, sekarang giliran Anda.

25 January, 2008

Jodoh Anak Adam

Allah SWT melalui Alqur'an pernah bilang : "bahwa sesuangguhnya semua makhluk hidup diatas muka bumi, telah diciptakan berpasang-pasangan", begitu terjemahan bebasnya.

Faktanya kemudian, kenapa ada dua, tiga, empat atau mungkin lebih [orang] sahabat saya, hingga hari ini belum mendapatkan pasangannya? Padahal saya tahu betul, sahabat - sahabat saya ini adalah orang - orang yang secara kasat mata memiliki sejumlah kelebihan dan keunggulan yang berbeda dibandingkan dengan saya atau orang -orang yang sudah menemukan pasangannya. Terus terang, buat saya ini adalah misteri hidup yang tidak mampu saya temukan jawaban rasionalnya.

Malam lalu (23/01), salah seorang sahabat yang saya maksud diatas, berkesempatan membunuh senja bersama di salah satu tempat nongkrong di kawasan Menteng. Ah...makin cantik saja dia, kemapanan hidup, telah memungkinkan dirinya untuk memanjakan seluruh tubuhnya, luar dalam. Nampak makin cerdas dan bernas, karena pasti asupan buku-buku bermutu senantiasa dinikmati kala weekend. Rambut dan kulit yang terawat bersih, tentu terjaga dengan menjambangi salon -salon kecantikan di epicentrum life style kota ini. Dan..matanya, terbungkus rapi sebuah frame kacamata berkelas dunia. Apa yang tidak dimilikinya coba? Sejumlah persyaratan untuk dicintai dan mencintai telah ada dalam genggaman, upaya untuk memperkenalkan diri dan diperkenalkan telah dilaluinya berkali - kali. Entah ada misteri apa...

Dimana komitmen Sang Khalik terhadap kata-kata-Nya? Tidakkah kondisi ini akan mendatangkan prasangka? Bagaimana kita akan terus dan selalu yakin atas apa yang dikatakannya dalam kitab suci pasti terjadi dan berlaku bagi setiap hamba yang membacanya? Ah, cobalah kau beri tahu jawabannya... Agar sayapun mengetahui rahasia ini, jika itupun masih layak dianggap rahasia Sang Khalik. []

14 January, 2008

2008, Hari Ini

2008 M, memasuki hari ke empat belas dan 1429 H, berbilang hari kelima. Mengingat banyak resolusi sudah diucapkan dalam hati, kala menghadiri Dzikir Nasional di Masjid At-Tiin di TMII 30 Desember 2007, ternyata sejumlah fenomena semakin banyak terjadi melampaui kecepatan resolusi yang hendak dilakukan. Tentu saja hal ini membuat sejumlah resolusi memerlukan penguatan dan komitmen yang lebih keras untuk dapat dilaksanakan agar diakhir tahun 2008, menuai sukses dan perasaan yang jauh lebih syukur atas karunia yang telah diberikan Allah SWT.
Pertama,
Pak Harto, mengalami masa kritis terburuk menurut catatan kesehatan, yang dapat direkam oleh Tim Kesehatan Kepresidenan R.I. Ada beberapa catatan yang tersisa untuk hal ini, pertama, salut dan bangga, orang sehebat Pak Harto, istiqomah, mempercayakan kesehatannya kepada dokter-dokter dan rumah sakit Indonesia. Sebuah teladan yang baik, bahwa dokter dan rumah sakit Indonesia mampu memberikan pelayanan dan pengobatan prima terhadap kebutuhan kesehatan beliau. Catatan kedua, terlepas dari kondisi yang sedang dihadapi, rasanya kita harus balas teladan dari beliau, dengan segera menunjukkan bahwa Indonesia juga mampu, menyelesaikan permasalahan hukum yang masih menggantung terhadap diri beliau. Segera tentukan -lewat pengadilan tentu saja- kesalahan - kesalahan beliau dimasa lalu dengan jelas dan tegas, sebenderang keberanian kita untuk mengapresiasi prestasi beliau. Setelah jelas permasalahan yang menjadi tuntutan sebagian masyarakat, beberapa yang dapat disebutkan: Tragedi semanggi I dan II, Peristiwa Tanjungpriok, G-30 S/PKI, Tragedi Lampung dan Penculikan sejumlah aktivis mahasiswa, kenapa tidak atas nama keluarga, memenuhi tuntutan para korban tersebut dan melakukan sejumlah kompensasi-kompensasi yang wajar. Segera setelah itu dilakukan, insyaallah, sebagai manusia yang beriman dan berbudi luhur yang dimiliki bangsa ini, rasa maaf itu akan keluar dari para Ibu, suami, istri dan siapa saja yang dirugikan atas tindakan dan kebijakan yang bisa jadi, terpaksa dilakukan untuk sebuah alasan yang bernama stabilitas dan kelanggengan kekuasaan. Insyaallah, jika lebih banyak rakyat yang memaafkan dibandingkan dengan yang masih merasa dikorbankan selama kepemimpinan beliau, ending dari kondisi kesehatan yang menyedot perhatian publik inipun akan segera kita ketahui. Saya jadi ingat cerita dari Pak Ustadz, mengenai Alqomah, sahabat Nabi Muhammad yang mengalami sakaratul maut maha dahsyat, karena belum mendapat ridho dari Ibunya.
Kedua,
Saya harus kehilangan sahabat, Wachyuni Mustani, yang telah menemani saya bekerja di Indonesia Business Links. Karena keinginan untuk bekerja ditempat lain, apa yang sudah kami kerjakan bersama dan berjalan dengan baik, harus saya lakukan dengan cara mencari pengganti yang harus kembali dicari melalui sejumlah proses rekruitmen. Tidak mudah memang, membangun teamwork yang solid dan percaya kepada visi serta misi organisasi yang terinternalisasi kedalam keyakinan diri melalui keikhlasan untuk berinvesatasi waktu, menjalani hari yang penuh tantangan. Godaan akan kepastian pekerjaan, rasa aman terhadap masa depan , adalah harga yang harus dibayar untuk sebuah idealisme. Itu adalah pilihan. Semoga apa yang menjadi harapan Yuni ditempat yang baru, mendapatkan kesejatiannya dalam memaknai arti hidup dalam bentuk pengabdian yang disebut bekerja.
Saya, harus mencari sahabat dan rekan kerja baru. Saya percaya orang itu akan dikirimkam Tuhan untuk memenuhi keyakinan akan apa yang saya lakukan adalah benar dan akan memberi manfaat terbesar bagi negeri ini.
Ketiga,
Hudaya Aslam dan Reflizar, dua orang sahabat dan senior saya, mengalami kecelakan lalu lintas hebat di KM 44, tol Jagorawi. Sehari setelahnya, Jum'at tanggal 11 Januari 2008, saya berkesempatan untuk menjenguknya di RS MH. Thamrin, Ruang Krisan ruang 364. Sejumlah senior dari Universitas Padjadjaran pun, alhamdulillah berkesempatan datang untuk memberikan dukungan, agar keduanya beserta keluarga, mendapatkan kemudahan dan kesabaran dalam melampaui ujian ini. Pertemuan dengan sejumlah senior yang kebetulan sebagian besarnya adalah aktivis mahasiswa pada jamannya, mendatangkan romantisme dan kenangan atas sejumlah peristiwa yang sempat terjadi dan dilewati bersama. Pertemuan tersebut, tentu saja, menjadi cara Tuhan, untuk sekedar mengingatkan saya, atas sejumlah resolusi yang pernah saya ucapkan pada tahun - tahun lampau, ketika masih menempuh studi di Bandung.
Semoga, tiga kejadian yang diluar kemampuan saya untuk mengkalkulasinya, ketika resolusi personal saya ucapkan ditahun 2008 ini, menjadi bukti yang semakin nyata, bahwa tidak semua yang kita inginkan dapat terlaksana dan sebaliknya tidak bisa menolak hal - hal yang tidak kita inginkan.
"Keberanian untuk membuat cita-cita yang tinggi harus diiringi dengan sejumlah kompromi dan keikhlasan terhadap perubahan- perubahan yang terjadi dalam hidup"

27 December, 2007

Personal Outlook di Warung Tegal

Hari ini, saya makan siang bersama dengan salah seorang rekan, Pahrian G. Siregar namanya, di salah satu "warung tegal" yang ada di sekitar kantor. Biasanya, kami makan siang dalam jumlah banyak di kantin SCTV. Sekalian cuci mata karena banyak presenter dan sejumlah "esmud"yang bekerja sekitar kawasan Gatot Soebroto, yang menghabiskan saat istirahatnya dikantin yang dikelola oleh koperasi karyawan salah satu stasiun televisi dengan tagline -ngetop - nya itu.
Sebuah catatan menarik, untuk dapat izin naik dalam blog ini, adalah sejumlah saran dan pandangan yang bernas, tentang bagaimana agar bisa bertahan dan berkembang dalam meniti karir di sebuah entitas yang berjubah Non Goverment Organization (NGO). Mengapa menarik? karena makan siang kali ini, bisa jadi akan menjadi makan siang terakhir saya dengan dia dipenghujung tahun 2007. Alasan lain, karena yang bersangkutan akan undur diri dari tempat bekerja saat ini, dan mencari petualangan-petualangan baru ditempat yang berbeda mulai tahun depan.
Menurut dia, yang paling bernilai dari seseorang yang bekerja di NGO adalah penguasaan terhadap issue. Yang diteruskan dengan kata-kata spesifik, unik dan tidak dimiliki oleh orang lain. Penguasaan issue yang unik, ditambah dengan networking yang kuat dan luas di kalangan civil society merupakan esensi yang harus menjadi investasi bagi siapapun yang memilih untuk bekerja dan meniti karier di NGO. Human investment melalui capacity building dapat ditempuh dengan berbagai cara: mengerjakan sejumlah pekerjaan dan proyek - proyek baru dengan kemampuan individu dan organisasi sendiri, melakukan riset yang berbeda dengan yang pernah dilakukan oleh organisasi lain dan berani untuk mengemukakan gagasan orisinal, melalui tulisan dan ujaran kala menghadiri diskusi dan debat publik, adalah tahapan - tahapan selanjutnya yang perlu dilakukan agar seseorang menjadi somebody . Karena karir dan pekerjaan yang menjanjikan di komunitas NGO sangat ditentukan kepada kemampuan kita menjual kapasitas personal yang ditunjukkan dengan kerja - kerja dan rekam jejak yang excellent. Tantangannya kemudian, rekam jejak yang excellent tadi akan mumpuni jika diimbangi dengan kemampuan kita untuk mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan entah itu berupa jurnal ilmiah, opini publik di media massa atau seminar-seminar. Sehingga kemampuan menulis adalah kompetensi lain yang harus dimiliki. Jika ini semua sudah dimiliki, insyaallah pekerjaan yang akan menghampiri kita, bukan kita yang mencari - mencari pekerjaan. Saya kira, apa yang disampaikannya senafas dengan satu diantara puluhan catatan dalam kitab suci yang menyatakan keutamaan umat manusia yang berilmu yang dibarengi dengan kualitas dan keutamaan iman. Makin tinggi ilmu seseorang, seyogyanya akan diikuti dengan kemuliaan dan kemudahan dalam hidupnya.
Hidangan yang tinggal sedikit, makin sedikit, tatkala diam saya mencerna sejumlah saran dan ilmu yang baru saja saya terima bersama dengan bekerjanya pencernaan saya melahap santapan makan siang ala warung tegal. Ternyata, kualitas makan siang tidak bisa diukur dari dimana kita makan siang. Yang jauh lebih berharga adalah apa yang menjadi bahan obrolan dan dengan siapa makan siang itu sendiri dilakukan. Hal ini sekaligus menginspirasi saya untuk mempersiapkan sejumlah agenda dan target - target personal yang harus saya capai dalam meningkatkan kompetensi, agar lebih menjadi insan yang berilmu di tahun 2008.

Change Management

Adalah dua kata   sakti yang selalu digulirkan bersamaan dengan   momentum momentum berikut : merger, akuisisi, perubahan Bord of ...