15 January, 2009

Ngapain Juga Kita Mikirin Palestina?


Oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad

Surabaya, 1945...

Langit gelap. Bukan oleh awan yang hendak menurunkan hujan. Angkasa
dipenuhi pesawat sekutu yang bergemuruh. Di dalamnya, para serdadu
masih menyisakan keangkuhan. Mereka baru saja menghancurkan pasukan
Jepang di Front Pasifik. Dari langit, mereka menebar ancaman:
"menyerah, atau hancur".

Beberapa pekan sebelumnya, pengibaran bendera Belanda memicu amarah
para perindu kemerdekaan. Seorang pejuang mencabik warna biru dari
bendera Belanda di Tunjungan, menggemakan pesan bahwa negeri ini tak
rela kembali dijajah. Tentara sekutu menjawab dengan salakan senapan,
bersembunyi di balik alasan "memulihkan perdamaian dan ketertiban".
Jiwa-jiwa merdeka itu berontak. Brigadier Jenderal Mallaby, pimpinan
tentara Inggris di Surabaya, terbunuh. Sekutu murka.

Rakyat gelisah. Surabaya telah lama dikenal sebagai salah satu pusat
perlawanan. Laskar-laskar dari berbagai pesantren dan daerah banyak
yang menjadikan kota ini sebagai markas. Di kota ini pulalah,
Cokroaminoto dan Soekarno muda mendiskusikan cita-cita kemerdekaan.

Suara dari lelaki kurus itu menghapus semua keraguan.

"Saudara-saudara rakyat Surabaya.
Bersiaplah! Keadaan genting.
Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
Jangan mulai menembak.
Baru kalau kita ditembak.
Maka kita akan ganti menyerang mereka itu.
Kita tunjukkan bahwa kita itu adalah orang yang benar-benar ingin merdeka.
Dan untuk kita saudara-saudara.
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
Semboyan kita tetap.
Merdeka atau mati.
Dan kita yakin, Saudara-saudara.
Akhirnya, pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita.
Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
Percayalah Saudara-saudara!
Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Merdeka!"

Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya itu akan terus dikenang sebagai
tonggak kemerdekaan Indonesia. Semua yang mengaku mencintai negeri ini
tidak layak untuk menjadikan peristiwa itu berdebu di pojokan sejarah.

***

Gaza, peralihan tahun 2008-2009...

Kota padat berpenduduk sekitar 1,5 juta orang ?mayoritas pengungsi
akibat pengusiran biadab Israel sejak tahun 1948, 1967, dan ekspansi
ilegal pemukiman yahudi yang tak pernah menghormati perjanjian yang
dibuatnya sendiri- itu mencekam. Sejak 27 Desember 2008,
pesawat-pesawat Israel yang dilengkapi dengan bom-bom terbaru kiriman
Washington membombardir kota ini. Ehud Barak, Menteri Pertahanan
Israel, menyatakan bahwa operasi berjudul "Cast Lead" ini akan
memakan waktu lama. Hingga hari ini, 510 orang telah meninggal dunia dan
ribuan luka-luka. Tidak ada jurnalis diizinkan masuk. Bantuan medis
pun kesulitan.

Demonstrasi bergolak dari Jakarta sampai Eropa. Dari Jordania hingga
Amerika. Posko bantuan dibuka di mana-mana, meskipun masih sangat
kurang dibandingkan kebutuhan penduduk Gaza.

***

Hati saya sakit saat ada yang berkata: "Ngapain kita ngurusin
Palestina, wong negeri kita saja masih amburadul".

Semoga kita tidak melupakan sejarah bahwa Al-Hajj Amin Al Husaini,
Mufti Palestina, adalah orang pertama yang menyiarkan kemerdekaan
Indonesiadi radio internasional.

Alasan yang sepintas terlihat nasionalis ini adalah pengkhianatan
kejam pada nasionalisme Indonesia itu sendiri. Preambule Undang-undang
Dasar 1945 mendeklarasikan dengan jelas perlawanan pada segala bentuk
penjajahan. Soekarno dan Hatta berkali-kali menandaskan bahwa
nasionalisme Indonesia tumbuh di taman kemanusiaan. "Jangan pikirkan
hal lain kecuali Indonesia" adalah logika yang menghina keindonesiaan.

Hati saya lebih sakit lagi saat ada yang mengatakan "Itu kan salah
HAMAS sendiri yang tidak mau damai dan menembakkan roket! Media di
Indonesia terlalu berpihak pada Palestina, nih? gak berimbang!"

Lalu, yang berimbang itu seperti apa? Seperti media massa Barat yang
lebih menyalahkan HAMAS, menyiarkan propaganda Israel bahwa serangan
ini adalah respon dari tindakan HAMAS menyerang Israel, menyalahkan
sikap HAMAS yang memutus gencatan senjata? Sepertinya kita harus
menelaah peringatan Finkelstein, seorang ilmuwan Yahudi, dalam bukunya
Beyond Chutzpah: On the Misuse of Anti-Semitism and Abuse of History
dan Image and Reality of Israel-Palestinian Conflict. Sejarah telah
dibajak untuk tidak pernah mengkritisi Israel dan media massa pun
tidak bebas dari pembajakan ini. Untuk melihat bias media barat dalam
isu Palestina, silakan buka www.ifamericansknew .org .

Bahkan, menurut saya, media di Indonesia masih terlalu berpihak pada
Israel. Tidak ada yang menyebutkan fakta bahwa pemutusan gencatan
bersenjata oleh HAMAS itu didahului oleh suratprotes gerakan
perlawanan itu atas terbunuhnya 4 orang petani di Gaza oleh tentara
Israel. Tidak ada yang mengingatkan bahwa Israel terus melanggar
perjanjian damai yang disepakatinya sendiri dengan membiarkan
pemukiman ilegal terus tumbuh. Kita juga tak boleh lupa dengan tembok
pemisah apartheid Israel yang memutus akses rakyat Palestina pada
kebutuhan vital kehidupan. Belum lagi blokade Gaza yang lebih kejam
dari Blokade Berlin pada masa Perang Dingin.

"Itu kan salah HAMAS sendiri yang tidak mau damai"

Sampaikan pernyataan itu pada Bung Tomo dan para pendiri negeri ini.
Alhamdulillah, para pendiri negeri ini menolak iming-iming perdamaian
palsu di bawah ketiak Ratu Belanda. Soekarno bahkan menantang: "Ini
dadaku, mana dadamu!"

Kalau kita menggunakan logika yang sama, berarti kita mendukung Agresi
Militer Belanda pada tahun 1948. "Itu kan salah para pejuang
kemerdekaan Indonesia yang tidak mau damai!"

Tidak banyak yang mengingatkan bahwa Israel berdiri dengan berkubang
darah pembersihan etnis yang menghalalkan pembantaian dan pengusiran
terhadap penduduk asli Palestina (Ilan Pappe: The Ethnic Cleansing of
Palestine ). Komunitas Yahudi yang hidup dalam perdamaian di bawah
Khilafah Utsmaniyah tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan
saudara-saudara mereka yang mengungsi dari kebiadaban Eropa dan
membawa ide rasis radikal untuk mendirikan Israel (Amy Dockser Marcus,
Jerusalem 1913). Bayangkan, komunitas yahudi saat itu yang sekecil
komunitas muslim di Swedia saat ini tiba-tiba menuntut Negara sendiri
dengan luas wilayah yang melebihi luas wilayah penduduk aslinya. Kalau
muslim di Swedia tiba-tiba menuntut mendirikan Negara Islam, mereka
pasti segera dicokok dan dilabeli teroris.

Memori pembantaian ini dihapus dari sejarah dunia dan dari kesadaran
rakyat Israel. Pada saat yang bersamaan, kenangan pahit ini terus
hidup di antara rakyat Palestina. Maka, sangat sulit bagi orang
Palestina untuk menerima perdamaian yang tidak pernah berpihak pada
mereka, lha wong keberadaan Israel saja tidak legal! Wajar jika
popularitas HAMAS semakin lama justru semakin meningkat.

Indonesia saat itu tegas tidak mengakui Israel karena melihat fakta
ini. Sayang, kini banyak yang sudah lupa. Banyak yang terjebak dalam
narasi fiktif "Israel yang cinta damai terancam keberadaannya oleh
HAMAS yang ekstrimis yang tidak mau damai".

Kalaupun kita harus menerima fakta bahwa berdasarkan hukum rimba
Israel itu eksis, tidak berarti bahwa kita berhak menyalahkan mereka
yang menghendaki perdamaian sejati yang lahir dari kemerdekaan. Saya
mendukung proses perdamaian, tapi harus dengan dialog yang adil dan
terbuka yang melibatkan HAMAS sebagai kekuatan riil di Timur Tengah.
Tidak sekedar perjanjian sepihak yang dibuat AS dan Israel lalu
dipaksakan pada Palestina.

Kemanusiaan. Keindonesiaan. Islam.
Ketiganya memaksa saya berpihak pada yang lemah dan tertindas.

09 January, 2009

A Letter for Mr. President


Open Letter to Barack Hussein Obama, President-elect of the United States of America
By Dr. Mahathir Mohamad and Former Prime Minister of Malaysia

Global Research, January 2, 2009

January 1, 2009

Dear Mr. President,

I did not vote for you in the Presidential Election because I am Malaysian.

But I consider myself one of your constituents because what you do or say will affect me and my country as well.

I welcome your promise for change. Certainly your country, the United States of America needs a lot of changes.

That is because America and Americans have become the most hated people in the world. Even Europeans dislike your arrogance. Yet you were once admired and liked because you freed a lot of countries from conquest and subjugation.

It is the custom on New Year's day for people to make resolutions. You must have listed your good resolutions already. But may I politely suggest that you also resolve to do the following in pursuit of Change.

1) Stop killing people. The United States is too fond of killing people in order to achieve its objectives. You call it war, but today's wars are not about professional soldiers fighting and killing each other. It is about killing people, ordinary innocent people by the hundreds of thousands. Whole countries will be devastated.

War is primitive, the cavemen's way of dealing with a problem. Stop your arms build up and your planning for future wars.

2) Stop indiscriminate support of Israeli killers with your money and your weapons. The planes and the bombs killing the people of Gaza are from you.

3) Stop applying sanctions against countries which cannot do the same against you.

In Iraq your sanctions killed 500,000 children through depriving them of medicine and food. Others were born deformed.

What have you achieved with this cruelty? Nothing except the hatred of the victims and right-thinking people.

4) Stop your scientists and researchers from inventing new and more diabolical weapons to kill more people more efficiently.

5) Stop your arms manufacturers from producing them. Stop your sales of arms to the world. It is blood money that you earn. It is un-Christian.

6) Stop trying to democratize all the countries of the world. Democracy may work for the United States but it does not always work for other countries.

Don't kill people because they are not democratic. Your crusade to democratize countries has killed more people than the authoritarian Governments which you overthrew. And you have not succeeded anyway.

7) Stop the casinos which you call financial institutions. Stop hedge funds, derivatives and currency trading. Stop banks from lending non-existent money by the billions.

Regulate and supervise your banks. Jail the miscreants who made profits from abusing the system.

8) Sign the Kyoto Protocol and other international agreements.

9) Show respect for the United Nations.

I have many other resolutions for change which I think you should consider and undertake.

But I think you have enough on your plate for this 2009th year of the Christian Era.

If you can do only a few of what I suggest, you will be remembered by the world as a great leader. Then the United States will again be the most admired nation. Your embassies will be able to take down the high fences and razor-wire coils that surround them.

May I wish you a Happy New Year and a great Presidency.

Yours Sincerely,

Dr. Mahathir bin Mohamad

(Former Prime Minister of Malaysia )

Mahathir Mohamad is a frequent contributor to Global Research. Global Research Articles by Mahathir Mohamad

19 December, 2008

Maaf, Kapitalisme belum akan hancur


Opening statement:
Fenomena, keruntuhan tatanan ekonomi 'kapitalisme'global saat ini, menjadi trigger bagi munculnya (kembali) rasa percaya diri sebagian orang (pengamat dan pelaku ekonomi syariah). Sehingga, indikator dan parameter yang berhasil ditunjukkan pelaku ekonomi syariah, meskipun secara nasional masih sangat kecil,porsinya kurang dari 10%, mendapatkan momentumnya untuk di show case kepada publik. Tentu saja, pelaku pasar rasional tidak mudah percaya begitu saja. Logika ekonomi yang pragmatis yang selama ini menjadi landasan berfikir dan membuat keputusan, tidak mungkin bisa dirayu dengan pendekatan emosional dan psikologis. Menjadi tugas berat bagi para syuhada dan mujtahid di bidang ekonomi Islam untuk terus membuktikan diri, akan madu yang memang ada dalam Sistem Ekonomi Islam (Nidzhom Iqtishody)

Postingan ini, saya ambil secara utuh dari milist ekonomi-syariah@yahoogroups.com. Pengirimnya adalah herisudarsono_master@yahoo.co.id. Saya menyetujui Dialog yang beliau susun. Jadi saya sependapat dengan tulisan beliau.
---------------------------------------


Kyai Fulan duduk di teras Pondok bersama 3 santrinya;

Santri 1:
“Mundurnya ekonomi kapitalis menjadi kesempatan bagi ekonomi Islam untuk maju, Kyai”

Kyai Fulan :
“Memang maju mundurnya ekonomi Islam tergantung ekonomi kapitalis...apa memang begitu....mundurnya ekonomi Islam karena majunya ekonomi kapitalis?”
Santri 2
“..... Loh, benar Kyai...tenggelamnya ekonomi Islam pada abad 15- 19 M dikarenakan kekuasaan kapitalis...... dan dulu pada abad 7 sampai 12 M, ekonomi Islam jaya.....!”
Kyai Fulan:
“Apa tidak salah kalau kamu bilang majunya ekonomi Islam karena mundurnya kapitalis pada waktu itu...... sedangkan kapitalisme seperti Amerika dan teman-temannya belum ada pada abad 7-12 M lalu....
Santri 3:
“Yang jelas kyai....runtuhnya kapitalisme membuktikan kemenangan ekonomi Islam” ......”
Kyai Fulan:
“....kapan ekonomi Islam dan kapitalisme perang.....memangnya masalah ekonomi di Amerika saat ini karena serangan ekonomi Islam.....kapan mereka berhadapan....dan kriteria kemenangan ekonomi Islam apa yang kamu maksudkan?”
Santri 2:
“...yang jelas....kapitalis jatuh dan ekonomi Islam tetap jaya....”
Kyai Fulan:
“....mengapa kalau kamu bicara tentang ekonomi Islam selalu kamu hadapkan dengan ekonomi kapitalis....sampai akhirnya tidak kamu sadari bahwa kapitalis menjadi tolak ukur bagaimana kamu membangun ekonomi Islam mu....kapitalis menjadi standar pedoman bagaimana membuat ekonomi Islam mu maju....karena segala sesuatu tentang ekonomi Islam selalu kamu banding-bandingkan dengan kemajuan ekonomi kapitalis yang selalu tidak lepas dari pemikiranmu....aku jadi kuatir lama-lama kapitalis menjadi poros dari segala perbandingan dalam menentukan arah hidupmu..........!”

Santri 1:
“Tidak mungkin.Kyai......kapitalisme akan hancur .........”
Kyai Fulan:
“.....Kapitalis menghadapi berbagai kritikan sejak lahirnya ........ Adam Smith (1723-1790) di kritik oleh Kark Mark (1818-1883). ...namun kemudian kapitalis berhasil beradaptasi dengan Kritik Mark melalui pemikiran Friedrich List (1789-1846). ....sampai akhirnya krisis ekonomi pada tahun 1929 melahirkan kritik atas kapitalis, oleh J.M Keynes (1883-1946) pada tahun 1936......dan lagi kapitalis mampu melakukan evolusi dalam pemodelannya. .....sampai akhirnya tumbuh ekonomi heterodok, seperti ekonomi Institusionalis, ekonomi Australian, ekonomi Feminis, ekonomi Geselian, ekonomi Post-Keynes, ekonomi Sraffia, ekonomi Complexity dan lain-lain yang mengkritik kapitalisme. .....
Santri 2:
“..........................................”

Kyai Fulan:
”...Kapitalisme yang kau kenal di negara-negara Barat telah beradaptasi dengan kondisi ekonomi di mana kapitalis itu hadir di negara penerimanya. ...maka kapitalis telah melakukan transformasi dalam berbagai bentuk...kapitalisme telah berkolaborasi dengan berbagai kenyataan di berbagai negara....seperti model F. List (1789-1846) yang mengkolaborasikan kapitalisme dengan negara (state capitalism) seperti negara-negara Asia Tenggara, dalam bahasa Yoshihara Kunio sebagian kapitalisme negara Asia Tenggara adalah kapitalisme semu (ersatz capitalism). ...muncul juga sistem kapitalisme model Adolf Wagner (1890-1944), kapitalisme dengan pengaturan alokasi dana-dana pemerintah atau welfare state....ada juga yang sistem ekonomi yang dikuasai negara tetapi memberi tempat bagi pasar untuk berkuasa (market socialism) seperti di Cina...Robert Ozaki (1991) juga meindentifikasi adanya ide-ide kemanusiaan di dalam kapitalisme (human capitalism) yang di praktekkan di Jepang....”
Santri 3:
“....Tapi itu semua adalah kapitalis, Kyai!!!”.

Kyai Fulan:

“....Rasulullah sendiri pernah mempercayakan pasar untuk menentukan harga ...itu salah satu ciri kapitaliskan?.......saat penduduk Madinah datang kepada Rasulullah SAW untuk menurunkan harga gandum, namun Rasululllah menolak (HR.Abu Daud)..... Menurut Ibnu Qudamah al-Maqdisi... tingginya harga gandum pada waktu itu disebabkan pedagang gandum tersebut di rampok ketika mendatang gandum dari luar Madinah sehingga mengalihkan nilai kerugian perampokan tersebut pada harga gandum yang di jual di pasar... Di lain waktu Rasulullah juga menentukan harga-harga. ...harga pohon yang dahannya sampai di rumah tetangga..harga budak juga di tentukan.... juga di masa khulafaurashidin..... Umar sampai merampas lahan milik Bilal untuk negara karena tidak ditanami selama 3 tahun walaupun Bilal mempertahankan tanah hadiah dari Rasulullah itu. ...harga di masa Rasulullah dan di masa Khulafaurahidin, seperti Umar bin Khattab bukan karena kapitalisme atau sosialisme.. ...tetapi, kebijakan ekonomi yang dikeluarkan adalah untuk kemaslahatan umat...!!!.”
Santri 2:
“..Amerika hancur...kapitalisme juga runtuh kyai......”

Kyai Fulan:
”Kamu selalu mengindentikkan Amerika itu dengan kapitalisme. ... kamu selalu berusaha mencari cara supaya Amerika itu hancur...karena kamu maknai hancurnya Amerika hancur juga kapitalisme. ..... kapitalisme sebagai musuh hidupmu dengan menyederhanakan kapitalis dalam sebuah lembaga/negara Amerika adalah kapitalisme itu....kamu mempersempit pandangan hidupmu dengan menilai hancurnya kapitalisme adalah hancurnya Amerika.... Amerika yang menjadi simbol kebencianmu.......tetapi kamu tidak sadar bahwa diam-diam kapitalisme telah menjadi pemahaman baru dalam sikap ekonomi di negaramu!!!.”

Santri 3:
“Tidak mungkin!!!”
Santri 1:
“Mustahil!!!”

Kyai Fulan:
”........kapitalisme telah menjadi nafas dalam tata pergaulan dengan sesamamu.... kapitalisme telah menjadi acuan dalam menentukan nilai-nilai dalam etikamu....kapitalisme telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari berbagai alasanmu untuk melakukan sesuatu.... lihat di negaramu.... sistem pendidikan didasarkan sistem kapitalis... ..kau bisa masuk sekolah yang bermutu bukan didasarkan atas otakmu tetapi didasakan atas berapa besar nilai uang yang kau berikan... .lihatlah sistem kesehatan di negerimu bercumbu mesra dengan sistem kapitalis... ...kau bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik bukan berdasarkan atas kualitas sakitmu tetapi berapa berat isi kantongmu... . lihat lembaga negara yang bersetubuh dengan sistem kapitalis... .kau menjadi pegawai bukan karena kemampuanmu tetapi berdasarkan besarnya sogoan kepada aparat yang menjadikan pegawai di negaramu.... semua di dasarkan proses keseimbangan antara fungsi permintaan dan penawaran... ...apapun yang kamu bisa dijualbelikan di jualbelikan. ..apapun yang ada pembeli kau jual.........tidak hanya makanan, pakaian, sepeda motor, mobil atau rumah.... kalau harga diri ini bisa dijual, kamu jual juga!!!....
Santri 2:
“.....ehmmm mmm”

Kyai Fulan:
“....Dalam memperjuangkan ekonomi Islam, kamu juga tidak lepas dengan keseimbangan permintaan dan penawaran itu........bank syariah selalu kamu kritisi dengan membandingkan bank konvensional karena alasan keuntungan yang akan mengisi kantongmu...tinggin margin pembiayaan bank syariah dari pada tingkat bunga selalu menjadi dalih penghindarmu....keuntungan besar menjadi orientasimu....laba tinggi telah menjadi motivasimu..pragmatis menjadi sikapmu...opportunis menjadi haluanmu....!!!”
Santri 3:
“......Kyai....”.

Kyai Fulan:
“...Lihat, kapitalis menjadi komponen penting penentu kebijakan pemerintahmu....kapitalisme menjadi variabel yang tidak terpisahkan dari segala unsur dalam kampanye tentang kesejahteraan di negaramu.....kapitalisme menjadi ikon penting untuk menarik investasi besar di negara mu.....dan bisa kamu lihat .peran negara atas kesejahteraan dilumpuhkan. ..kekuasan pemerintah atas pelayanan masyarakat dikerdilkan. ....kemaslahatan dipeti-eskan. ...peran pasar telah dikuasakan..... dan dengan terang-terangan uang telah di tuhankan.... !!!”
Santri 1:
“...K... Ki....Kyai.................................................................”

Kyai Fulan:
”....Berapa besar kemaslahatan yang diterima masyarakat karena tumbuhnya ekonomi Islam yang kau sebutkan tadi........ berapa besar peran ekonomi Islam tersebut mengeser kekuasaan laten kapitalis dalam kehidupanmu. ......... sampai kamu tidak sadar bahwa kapitalis telah menjadi batal, guling dan selimut di kamar kehidupanmu...... sehingga kamu tidak sadar bahwa sistem ekonomi Islam yang kau maksudkan itu tidak bersentuhan dengan usaha untuk mengeser kapitalisme. ... tetapi semakin memberikan tempat bagi tumbuhnya kapitalisme di negaramu untuk mengunakan wajah baru...!!!”
Santri 1, 2, dan 3:
“...Ti....ti....tidak mungkin !!!!!”

Closing statement:

Sehingga, jika ingin menjadikan Islam sebagai alternative dalam matra dan bidang apapun, seharusnya, memang tidak perlu pembanding dan tidak bisa diperbandingkan. Sehingga, tatanan yang ditawarkan menjadi "dirinya sendiri" yang menurut bahasa Kyai adalah "ya'lu wala yu'la 'alaihi..".

24 November, 2008

PKS (Partai Kehausan Suara)!


Manuver politik paling akhir yang dilakukan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini, membuat saya geram. Target pencapaian suara diatas 20 %, membuat sejumlah petinggi partai, terjebak kedalam strategi penggalangan dukungan yang “biasa-biasa saja”. Godaan untuk memperbanyak jumlah pemilih menjadikan partai ini tidak lagi istimewa dalam memilih dan menerapkan strategi. Strategi yang biasa-biasa saja yang saya maksud adalah, penjajagan untuk bekerjasama dengan PDI P untuk menggalang koalisi permanent dan memunculkan icon Pak Harto dalam barisan pahlawan Nasional.

Sebagai partai kader, menurut pemahaman saya, penerapan strategi pertama, yang mulai genit untuk memungkinkan berkoalisi dengan PDI P, sama sekali tidak boleh dipilih. Biarlah PDI-P besar dan memiliki basis pemilih potensial, jangan pernah sekalipun tergoda untuk membuat jalan pintas untuk mencapai target pencapaian jumlah kursi di DPR. Kaderisasi, hanya bisa terjadi jika sejak awal hingga akhir, sebuah perjuangan individu yang dikerjakan secara berjamaah melalui partai politik tetap memiliki dan ada ideologi yang diperjuangkan dan tentu saja ideologi tersebut harus berbeda dengan yang lain. Pakem dan analisis hostoris, nasionalisme adalah nasionalisme dan Islam adalah Islam. Polarisasi ideologi inilah yang justru menyebabkan aktivis kampus bergairah. Mentor –mentor politisi rela untuk menguras tenaga dan pikirannya untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu untuk bangsa. Termasuk masih adanya dukungan dari kaum aghniya untuk berbagi zakatnya untuk hal – hal yang sifatnya perjuangan yang dilakukan melalui sistem kenegaraan. Mengapa? karena kaderisasi harus terus berjalan dan ada dengan suatu keyakinan masih pekerjaan besar yan senantiasa dibawa tidur untuk keesokan harinya diperjuangkan lagi.

Hal yang sama, nampaknya juga menjadi alasan untuk strategi yang kedua. Fakta, mendiang Seharto masih memiliki sejumlah idola. Namun ada fakta lain yang juga masih sumir, status hukum Pak Harto terkait dengan sejumlah kebijakan dan tindakan yang sarat KKN, belum terang benderang. Sebagai partai yang berani menyatakan Bersih, Peduli dan Profesional, tentu saja pilihan strategi ini tidak produktif dan menyesatkan. Apakah semata karena masih ada ceruk pendukung Soeharto menjadikan pertimbangan yang “gelap mata”, sehingga aspek bersih dan professional dikorbankan? Tidakkah melukai sejumlah professional potensial yang telah susah payah membuktikan bagaimana korupnya regim “Bapak Pembangunan” ini? Dimana bersihnya beliau ketika fakta audit menyatakan jumlah kekayaannya dan seluruh keluarga ini melimpah ruah di sejumlah account di luar negeri? Belum lagi sejumlah asset yang menjadi tidak produktif dan masih berdiri tegak disejumlah jalan protokol ibu kota? Tidakkah para pengambil kebijakan strategis partai ini melihat demikianlah faktanya.

Semoga, tindakan yang dapat dikategorikan gharar (spekulasi) dalam kalkulasi politik ini, menjadi tindakan politik pertama dan terakhir. Tetaplah istiqomah, meniti jalan dengan cara yang memang susah. Pendidikan politik yang dilakukan selama ini, sejatinya adalah pilihan yang benar dan telah terbukti mendapat pujian sekaligus dukungan. Jangan sekali – kali tergoda untuk menempuh langkah instant. Karena akan merugikan diri sendiri.

Sepuluh tahun dan angka delapan untuk Pemilu 2009, mungkin angka dan usia yang masih terlalu muda dan sedikit jika dibandingkan dengan usia partai – partai three big five (PDI, PPP dan Golkar), bentukan Soeharto, yang mampu menjadi representasi ideologi. Sehingga, PKS memang harus menambah energi sabarnya, agar suatu saat kita mampu menjadikan partai laksana pilihan hidup yang memberi konsekuensi secara permanent, seperti saudara kita di Amerika atau Australia sana. Jika dia memang terlahir dari keluarga Demokrat, sepanjang itu pulalah pandangan dan orientasi hidupnya akan menjadi Demokrat, demikian sebaliknya. Fenomena emerging democracy yang dilakukan oleh para politisi Indonesia dan dialami sejumlah partai politik yang menjamur kemunculannya satu dekade ini, jangan sampai menodai partai yang memiliki warna identitas kuning dan hitam sebagai partai masa depan. Semoga.

17 November, 2008

Tim Catur Putri Indonesia Tekuk Tim Kuat Yunani di Dresden

Jakarta (ANTARA News) - Tim putri Indonesia masih bertahan tak terkalahkan hingga babak ketiga pada Olimpiade Catur ke-38 yang berlangsung di Dresden, Jerman, Minggu, setelah pada pertandingan babak ketiga itu menghentikan perlawanan tim tangguh unggulan ke-19 Yunani dengan skor 2,5 - 1,5.

Dengan kemenangan itu maka tim putri Indonesia kini berada di peringkat 12 dari 114 regu yang bertanding dari 112 negara, dan pada babak selanjutnya empat, Senin, akan menghadapi Rusia, demikian laporan Humas PB Percasi Kristianus Liem dari Dresden.

"Ini menjadi yang pertamakali tim putri Indonesia bertemu Rusia di Olimpiade Catur, Kalau bisa mengalahkan Rusia, saya akan berikan seribu dolar, dan jika seri lima ratus dolar," kata manajer tim Indonesia Riskie Dharma Putra di Dresden.

Menurut Riskie yang punya sekolah catur di Surabaya, ia baru saja menerima sms dari Wakil Ketua Umum PB Percasi GM Utut Adianto bahwa Menegpora menjanjikan hadiah satu milyar rupiah kalau tim putri Indonesia bisa mengalahkan tim putri Rusia.

Bintang Indonesia pada babak ketiga adalah Evi Lindiawati di papan dua dan pemain cadangan Kadek Iin Dwijayanti yang baru pertama kali diturunkan di papan empat menggantikan Desi Rachmawati yang diistirahatkan setelah mengalami kekalahan di babak kedua.

Evi (2121) yang main aman dan sederhana sejak awal pertahanan Sisilia variasi Kan, berhasil membuat kejutan dan mengalahkan GMW Anna Maria Botsari (2308) pada permainan akhir Gajah sewarna. Botsari yang merupakan pecatur berpengalaman melakukan kesalahan prinsipil pada langkah ke-43 ketika dalam posisi kalah satu bidak menolak pertukaran Gajah untuk masuk ke dalam permainan akhir Benteng yang peluang remisnya jauh lebih besar. Yang terjadi akhirnya permainan akhir Gajah sewarna dengan tiga bidak lawan empat bidak.

Disebut kesalahan prinsipil karena tiga dari empat bidak Botsari berada pada petak terang yang sewarna dengan Gajah Evi, dan sebaliknya lima bidak Evi justru berada di petak gelap atau tidak sewarna dengan Gajah Botsari sehingga tidak mungkin diambil. Akhirnya memang satu demi satu bidak Botsari "dipetik" Evi sehingga pecatur Yunani yang pernah ke Indonesia pada tahun 1993 itu menyerah pada langkah ke-56 setelah ketinggalan dua bidak.

Skor yang disumbangkan Evi langsung menyamakan kedudukan 1,5-1,5 setelah MIW Irene Kharisma Sukandar (2303) menahan remis papan satu Yunani yang sudah bergelar MI putra, GMW Yelena Dembo (2446) pada langkah ke-30, dan pahlawan hari sebelumnya Dewi Andhiani Anastasia Citra kalah dari GMW Marina Makropoulou (2265) pada langkah ke-43.

Kadek Iin (1859) yang paling akhir selesainya, membuat kubu Indoneisa tegang karena dalam krisis waktu yang parah, Kadek sempat tinggal satu detik baru melangkah, Kalau saja gerakan tangannya sedikit kurang cepat ia bisa kalah waktu. Gugupnya Kadek ternyata justru membuat lawannya, MIW Alexandra Stiri (2171) ikut nervous dan beberapa kali mengalami blankspot misalnya tidak melihat Gajahnya diancam. Stiri menyerah pada langkah ke-47 dan mendapat omelan rekan-rekannya karena main seperti orang bodoh akibat tak tahan didera krisis waktu sehingga Putri Indonesia menang 2,5-1,5.(*)

COPYRIGHT © 2008

05 November, 2008

Aulia Pohan, Sang Besan


Sebuah berita menggembirakan dan sangat dinantikan, terwujud sudah. Aulia Pohan, ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi aliran dana BLBI hari Rabu, tanggal 29 Oktober lalu oleh KPK. Praktis, hal ini menjadi headline disejumlah media massa cetak mapun elektronik dan bahan obrolan tak hanya di warung kopi pinggir jalan tetapi sampai juga ke café- café di gedung - gedung yang semakin menjulang tinggi di Jakarta.Penetapan status tersangka Aulia Pohan, sangat menarik dan memiliki kadar politis tinggi. Selain sebagai mantan Dewan Gubernur Bank Indonesia, beliau kebetulan adalah besannya SBY, seorang presiden aktif. Penetapan status tersangka kepada beliau, menunjukkan dua hal sekaligus. Pertama keberanian dan kesungguhan KPK dalam melakukan pemberantasan korupsi yang semakin teruji dan yang kedua komitmen politik SBY yang semakin jelas dan lugas untuk mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang bebas dari praktek korupsi. Sebuah sinergi yang secara langsung (seharusnya) menjadi hadiah terbesar bagi momentum kebangkitan Indonesia melalui perayaan Sumpah Pemuda yang sedang dirayakan denga tema Reborn Pemuda Indonesia oleh Kantor Menpora.

Selama masa pemeriksaan, tak kurang hampir semua analis meyakini beliau akan “diselamatkan”, toh sudah banyak tersangka lain, baik dari kalangan BI maupun DPR yang telah ditetapkan dan dijebloskan kedalam penjara. Aspek memenuhi rasa penasaran publik, terpenuhi sudah. Disamping itu, realitas hubungan kekeluargaan sebagai besan, tentu dianggap menyulitkan posisi SBY untuk tidak tergoda sekedar mengingatkan rekan-rekan di KPK. Faktanya kemudian, kita disuguhkan political will yang sangat bagus dan positif oleh sang Presiden, ketika pada akhirnya, beliau membiarkan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya tanpa melakukan intervensi sedikitpun. Buat saya, ini adalah bekal politik yang sangat bernilai untuk digunakan sebagai alat komunikasi kepada konstituen dan upaya meraih dukungan publik untuk tetap mengusungnya sebagai kandidat Presiden pada Pilpres 2009.

Setali tiga uang, ternyata KPK memang tidak bekerja untuk sekedar menyenangkan orang kebanyakan pun semata menjaga keseimbangan atau kepentingan politisi. Mereka tetap bekerja secara serius dan sungguh – sungguh untuk mengejar pelaku korupsi sampai keujungnya. Salute untuk KPK. Semoga momentum dan pencapaian yang selama ini telah dicapai, akan terus menjadi energi positif bagi KPK untuk melakukan lebih banyak hal terutama dalam domain pemberantasan korupsi.

Apatisme yang saya dengar dari para ABG tentang masa depan bangsa ini, dan harapan akan status quo dari mereka yang memang diuntungkan dengan kondisi yang masih terjadi, atas korupsi yang sudah akut dalam kehidupan bangsa kita, semoga terbantahkan dan membalikkan kondisi apatisme menjadi optimisme. Momentum ini, harus menjadi peluru bagi gerakan pemberantasan korupsi seiring dengan peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda. Tentu, tidak hanya upaya penyidikan dan penangkapan yang dilakukan KPK, kita pernah mendengar bahwa mereka juga melakukan langkah – langkah serta upaya pencegahan yang ditujukan untuk kalangan muda dan para pelajar serta mahasiswa. Kampanye atau inisiasi pendirian “warung kejujuran” di sejumlah sekolah, lomba pidato dan pembuatan poster serta lagu atau hyme pemberantasan Korupsi adalah sebagain kecil yang saya ketahui. Terakhir yang relative lebih strategis adalah upaya untuk membuat modul tentang nilai - nilai kepribadian yang positif, seperti kerja keras, jujur, disiplin yang akan dimasukkan dalam kurikulum sekolah sungguh upaya yang perlu mendapat sambutan dan dukungan dari kalangan pengajar maupun pengelola lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta yang ada di Indonesia.

Kembali kepada Aulia Pohan, semoga beliau dan sejumlah tersangka lainnya merelakan dirinya, menjadi bagian dari sejarah bangsa ini. Menjadi saksi hidup dan nyata bahwa ada masa dimana bangsa ini memang serius untuk maju, dengan cara memberi kesempatan untuk betobat dan memperbaiki sisa masa hidupnya kepada Bapak-Bapak/Ibu-Ibu yang sempat lupa akan tangungjawabnya sebagai pejabat pemerintah dengan melakukan tindakan-tindakan yang tidak sepatutnya dilakukan. Tak kurang kita punya sejumlah role model yang layak dicatat sejarah sebagai pelajaran bagi kita semua: ada Jaksa Urip Gunawan, ada Gubernur Abdullah Puteh, ada Bupati Syaukani H.R, ada Kepala Badan Urusan Logistik ada penyidik KPK sendiri. Semoga kehadiran mereka ini, menjadi awal baru untuk kembali menatap masa depan Indonesia yang lebih bersih dan mampu mensejahterakan lebih banyak rakyatnya. Bukan lagi Indonesia yang menyenangkan bagi segelintir kecil orang yang sejahtera sendirian karena korupsi.

Kembali ke Kampus UNPAD


Minggu, 26 Oktober 2008 di Kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran di Jatinangor. Menjadi hari dimana suasana hati menjadi mellow karena kesempatan untuk bernostalgia atas sebuah perjalanan hidup, fragmen sebagai mahasiswa kembali hadir. Bersama dengan Achadiat Nurhikmat (Kang Imat), sahabat saya sejak tahun 1991, saya penuhi undangan dari rekan-rekan Angkatan 2006 yang menjadi Panitia Orientasi jurusan Kesejahteraan Sosial yang dibungkus dengan tittle: Social Welfare on Training (SWoT 2008).

FISIP Setelah 12 Tahun Kemudian


Kesempatan menjadi salah seorang pembicara dalam kegiatan Social Welfare on Training (SWOT 2009) sungguh membahagiakan dan menjadi anugerah buat saya. Ilmu yang selama ini didapat di Kampus, pengalaman kerja, pengetahuan dan jejaring yang selama ini dibuat selama perjalanan menggeluti dunia kerja, ternyata dibutuhkan oleh rekan -rekan mahasiswa baru angkatan 2008 untuk sekedar membangun road map akan perjalanan yang akan dihadapinya sebagai mahasiswa.

Kampus mengalami banyak perubahan. Lebih rindang, banyak bangunan baru dan sebuah Musholla yang ditata sebagai gazebo sehingga memungkinkan untuk dijadikan tempat nongkrong dan kongkow bagi siapa saja. Saat ini sudah tersedia, ruang seminar yang cukup representative yang dipadukan dengan ruang-ruang kecil bagi aktifitas mahasiswa yang memilih untuk menjadi penggiat di jurusan maupun di tingkat fakultas.

NGO Sebuah Alternative untuk Mahasiswa Kesejahteraan Sosial

Dalam kesempatan ini, saya diminta untuk bertutur tentang dinamika yang terjadi di dunia NGO (Non Government Organization), berbekal pengalaman pernah bekerja di ALNI (Asian Labour Network on International Financial Institutions) dan IBL (Indonesia Business Links), saya sampaikan sejumlah requirements and competencies yang harus dipersiapkan oleh mahasiswa yang ingin menggeluti profesi sebagai penggiat NGO. Mempertimbangkan waktu yang terbatas, dari sejumlah persyaratan dan kondisi tiga hal yang saya sampaikan adalah: pertama research analysis, kedua networking dan ketiga relationship. Research Analysis diperlukan untuk memastikan program kerja yang akan dilakukan sesuai dengan realitas dan kebutuhan masyarakat. Publikasi hasil riset, selain mampu menjadi credit point bagi eksistensi organisasi/lembaga juga diharapkan menjadi alat ukur atas kondisi yang sedang terjadi sekaligus potret dari kondisi dimasyarakat. Kompetensi riset, akan mereka dapatkan dari mata kuliah Pengantar Penelitian Sosial, Metode Penelitian dan Metode Penelitian Pekerja Sosial. Ilmu pendukung yang akan membekali mereka untuk memperkuat adalah Sosiologi, Antropologi.

Networking dan relationship, merupakan kompetensi dasar, dikenal juga dengan term soft skill yang diperlukan untuk menjalani kehidupan dengan kualitas yang baik. Tidak hanya untuk alumni Kesejahteraan Sosial (KS) tetapi untuk profesi dalam bidang apapun. Khusus untuk mereka alumni KS yang akan memilih NGO sebagai ladang pengabdian pasca kampus, kemampuan menjalin networking menjadi kompetensi dan keahlian dasar yang mutlak untuk mendukung terlaksananya sebuah program dan pengembangan organisasi. Keterbatasan resources, berbanding terbalik dengan problem masyarakat yang dihadapi. Sementara, ada banyak sumber yang juga terbatas namun memiliki ketertarikan yang sama untuk melakukan sesuatu untuk masyarakat yang mengalami masalah atau keterbatasan yang lain. Kemampun melihat dan menjembatani sejumlah resources inilah yang akan bermanfaat besar dalam kehidupan seorang penggiat NGO. Tidak hanya masalah dana atau funding tetapi juga hal-hal yang terkait dengan kompetensi keahlian, dan sinergi program. Laksana menyusun puzzle, kemampun networking, menjadikan noktah atau pecahan program yang dilaksanakan oleh sebuah lembaga dapat tersusun menjadi gambar yang utuh dan jauh lebih Indah untuk membangun masyarakat Indonesia yang lebih maju dan sejahtera. Keahlian ini dapat terasah dengan baik, karena selama menjalani masa perkuliahan akan menerima mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi, Pengantar Ilmu Politik dan Sistem Ekonomi Indonesia.

Relationship, dalam pemahaman saya, adalah sebuah kemampuan yang terbangun dari pengetahuan sekaligus teknik yang lebih mengarah kepada seni bagaimana menjalin hubungan personal dengan sebaik-baiknya. Pemahaman dan kemampuan khusus dalam menyelami kepribadian seseorang akan membantu kita dalam mengungkapkan kehendak kita. Manfaat lain, kemampuan mencermati kondisi psikologis orang lain, akan memudahkan kita mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mengajukan sejumlah gagasan atau program kerja sesuai dengan mood yang sedang terjadi pada orang yang bersangkutan. Membangun, memelihara dan mengembangkan relationship tentu saja memerlukan investasi, terutama waktu, yang tidak sebentar. Sehingga selama rentang waktu tersebut, diperlukan konsistensi dalam membangun citra diri yang positif yang pada akhirnya akan menjelma menjadi integritas pribadi yang mumpuni. Menjadi orang yang dapat dipercaya, tidak pernah cedera janji dan mampu menunjukkan sebagai pribadi yang dapat diandalkan, memudahkan kita untuk melakukan sejumlah kerjasama bisnis sekaligus program pada masa yang akan datang.

Penutup

Kompetensi dasar, terutama yang saya sampaikan dalam penjelasan diatas, dua diantaranya, yaitu networking dan relationship akan terasah jika selama menjalani masa perkuliahan rekan-rekan mahasiswa baru turut aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, baik ditingkat jurusan, fakultas apalagi jika mampu di tingkat universitas. Dalam skala yang paling minim, setidaknya kembangkan kompetensi diri melalu aktivitas di tingkat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang sesuai dengan minat dan ketertarikan yang dimiliki.

Saya percaya, jika kehidupan selama menjadi mahasiswa diisi dengan hal-hal yang positif akan menjadi investasi sekaligus kenangan yang tidak akan terlupakan.

Selamat! Anda telah menjadi bagian dari sedikit masyarakat Indonesia yang beruntung mampu mengenyam pendidikan di tingkat tinggi.

Change Management

Adalah dua kata   sakti yang selalu digulirkan bersamaan dengan   momentum momentum berikut : merger, akuisisi, perubahan Bord of ...