29 September, 2008

Paradoks Lebaran




Ketika lebih banyak tulisan yang menganalisa fenomena lebaran dari sisi budaya, tentu saja “high cost economy” ala keluarga tidak akan pernah bertemu dengan logika rasional secara ekonomis. Begitu juga dengan komentar dari teman saya, realitas pemudik yang harus bertarung untuk mendapatkan moda transportasi yang sesuai dengan isi kantong, sungguh diluar kesanggupannya, untuk dapat memahami bahwa biaya tinggi dan susah payah yang harus dijalani pasti terbayar kala tangan dan pelukan anak besentuhan dengan tangan dan pelukan Ibu/Bapaknya. Rasa syukur, suka cita dan kegembiraan yang terjadi sesaat, menjadi tenaga yang sangat besar untuk setia kembali ke perantauan untuk menjalani hari – hari yang tidak bisa dibilang mudah pada ratusan hari lainnya ditahun depan.

Paradoks lain, Lebaran bukan tempat dan tidak dimaknai sebagai peristiwa untuk berboros-boros ria. Hal ini juga tidak bisa dipahami karena harga dari sebuah perjuangan dan penderitaan tanah rantau sepanjang tahun sebelumnya harus “dirayakan”, dengan menunjukkan sejumlah kemampuan untuk membeli ini dan itu. Simbolisasi dari sukses dan keberhasilan menapaki jalan hidup, dalam tataran tertentu dan dengan kadar yang cukup, adalah kebahagiaan dan bentuk syukur kepada pemberi rizqi. Sebagai bentuk syukur, tentu diizinkan untuk berbagi dengan membelikan ini dan itu kepada sanak saudara dan handai taulan. Tentu boleh juga sekedar menunjukkan bahwa saya saat ini sudah mampu membeli mobil atau motor seri terbaru. Harapan positifnya, mampu memotivasi saudaranya untuk berani meninggalkan kampong halaman untuk pergi ke perantauan, agar tahun depan mampu membeli ini dan itu.

Pagi ini, saya mendapat (balasan) sms dari Ananto teman saya, begini sms yang saya terima dalam tiga pesan yang terpisah, sms pertama: Takbir IDUL FITRI jadi tanda kemenangan? dari apa, hawa nafsu? Gimana tetangga rumah yg kurang makan, belum bayar kontrakan, ngutang di warung dan sekolah anaknya. Sms kedua: kemenangan, kemenangan macam apa yang kita rayakan. Sudahkan terlintas dana pulang kampung kita kasih aja ke yg belum bayar kontrakan, atau dana perayaan dialihkan untuk yang papa dan ini smsnya yang terakhir: akhirnya. Kullu man ’alaaiha fan. QS 55:26. Sebuah rangkaian balasan sms yang menarik perhatian saya, ketika saya mengirimkan ucapan selamat merayakan Hari Kemenangan Idul Fitri 1429H, lebih awal kepada beberapa teman, kolega dan sejumlah senior saya. Ananto termasuk diantara mereka yang berkesempatan menerima digelombang pertama. Mungkinkah pertanyaan retorik ini bisa diamini dan diikuti oleh mereka yang merasa perlu dihargai jerih payahnya dengan cara memenuhi hasrat-hasrat dirinya, yang bisa jadi selama ini terpaksa terkekang, karena keterbatasan yang melingkupi dirinya?

Lebaran, termasuk ritual ibadah lainnya seperti haji, terutama di Indonesia buat saya, memang masih sarat paradoks. Perpaduan antara perayaan atas keberhasilan menjalankan ibadah puasa selama Ramadhan nan agung (religiousitas) dengan prosesi 'unjuk gigi' atas perjalanan hidup manusia selama 11 bulan dalam mencari harta, kedudukan dan kekuasaan. Kesederhanaan ajaran dan pentingnya substansi dari esensi dari setiap ritual peribadatan seringkali diperumit dengan hal – hal yang artifisial dan kultural.

Rasanya, memang tidak pada tempatnya untuk memaksakan idealisasi sebuah peristiwa Lebaran dengan satu sudut pandang, karena setiap orang yang merayakan dan terlibat didalamnya memiliki kepentingan dan paham akan tafsirnya sendiri-sendiri. Saya pribadi, memilih jalan tengah saja diantara titik-titik ekstrem pendapat tersebut. Memahami kebutuhan aktualisasi para saudara kita yang mudik dengan susah payah dan telah bekerja keras “mengumpulkan barang bawaan” selama satu tahun, sepanjang tuntunan secara syariat terkait dengan terpenuhinya zakat dan uang yang digunakannya berasal dari sumber yang halal. Sehingga, sisi – sisi positif dari budaya mudik, dapat dibungkus secara benar dan halus dengan ketaatan kepada pedoman yang telah ditentukan oleh Dzat yang Maha Pemberi Kegembiraan dan Maha menguasai Kemenangan.

Selamat Idul Fitri 1429 Hijriyah.
Mohon Maaf Lahir dan Batin.

16 September, 2008

Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia

Disclaimer:
Tulisan ini berasal dari inbox email yang saya terima dari salah seorang rekan saya, Gunawan Imron (imron_gunawan@indocement.co.id) yang bekerja di salah satu industri semen di Jawa Barat. Semoga kiriman ini bermanfaat, seiring dengan suasana Ramadhan yang penuh barokah.
---------------------------------------------------------------

Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi'in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :
1. Qalbun Syakirun atau hati yang selalu bersyukur. Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona'ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu: "Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita". Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap "bandel" dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!
2. Al Azwaju Shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh. Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggung-jawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.
3. Al-Auladun Abrar, yaitu anak yang soleh. Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu: "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: "Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ? "Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: "Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu". Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.
4. Albiatu Sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita. Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.
5. Al Malul halal, atau harta yang halal. Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sodaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu berdoa sudah bagus", kata Nabi SAW, "Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan". Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.
6. Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama. Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng "hidup" kan hatinya, hati yang "hidup" adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.
7. Umur yang baroqah. Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat "hidup" orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah. Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas R.A. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia. Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu' mungkin membaca doa `sapu jagat', yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut "Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw" (yang artinya "Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia "), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah. Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri. Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu "wa fil aakhirati hasanaw" (yang artinya "dan juga kebahagiaan akhirat"), untuk memperolehnya hanya lah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah. Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah. Kata Nabi SAW, "Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga". Lalu para sahabat bertanya: "Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?". Jawab Rasulullah SAW : "Amal soleh saya pun juga tidak cukup". Lalu para sahabat kembali bertanya : "Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?". Nabi SAW kembali menjawab: "Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata". Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).

09 June, 2008

Ahmadiyah dan Kekerdilan Pemerintah Kita

Insiden 1 Juni 2008 di kawasan Monumen Nasional, dan rangkaian peristiwa ikutannya, menjadi bukti nyata dimana keberpihakan pemerintah regim ini. Tak puas dengan kebijakan menaikan harga BBM, pemerintahan yang dipimpin SBY-JK ini melengkapi kepatuhannya kepada kepentingan asing dengan membiarkan Ahmadiyah dalam posisi yang menggantung, tanpa keberanian untuk mengeluarkan keputusan berupa SKB yang menurut Jaksa Agung, sudah siap untuk dikeluarkan. Insiden (kekerasan dan penyerangan) di Monas, harus menjadi keprihatinan kita bersama, tetapi semoga kita tidak kehilangan pandangan akan akar masalahnya. Akar masalah yang sebenarnya adalah “kedunguan” pemerintah dalam menangkap aspirasi masyarakat yang dicampur dengan “ketololan” berlebihan dalam mengikuti kepentingan asing, terkait dengan ajaran sempalan yang bernama Ahmadiyah. Lambatnya pemerintah mengeluarkan larangan terhadap ajaran Ahmadiyah, menjadi “kata kunci” yang harus menjadi desakan kita bersama kepada pemerintah, agar permasalahan ini menjadi cepat selesai dan jernih solusi yang dipilihnya. Konflik horizontal yang terjadi di Jakarta, bukan tidak mungkin akan merembet ke tempat –tempat lain, solidaritas massa karena issue agama, dibelahan bumi manapun dan kapanpun menjadi bahan bakar paling efektif untuk menyulut kerusuhan massa. Tentu saja kita tidak rela hal ini akan terjadi lagi, saat ini, kala kelaparan dan beban hidup yang semakin berat karena kenaikan harga BBM, telah merenggut sejumlah nyawa saudara-saudara kita.



Orientasi kebijakan yang mengedepankan kepentingan asing, dalam konteks Ahmadiyah adalah kepentingan Inggris dan Amerika Serikat, menjadi bukti yang terang benderang bahwa patriotism dan semangat 100 Tahun Kebangkitan Nasional yang baru saja digelar, sama sekali tidak berbekas, alias kamuflase belaka. Bagaimana mungkin, sudut pandang, aspirasi dan kajian mendalam yang telah dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Forum Umat Islam (FUI), yang telah bulat menyatakan Ahmadiyah telah melanggar kaidah pokok agama Islam, dibiarkan saja? Tidakkah SBY dan JK sadar, ada sebuah proses penelitian dan pengamatan panjang yang telah dilakukan, tak terbilang, buku – buku dan kitab referensi yang telah dikaji, hingga pada akhirnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta pemerintah untuk segera melarang ajaran Ahmadiyah. Jika bukan karena adanya kepentingan asing, alasan apalagi yang hendak diujarkan? Tidakkah sudah pada tempatnya, kalangan umaro mendengarkan pendapat ulama, untuk masalah – masalah yang terkait dengan urusan peribadatan dan keimanan? Jika umaro sudah tidak lagi mau mendengarkan pendapat ulama, sebagai bagian dari warga Negara, rasanya kita harus bersiap –siap untuk melantunkan istighfar bersama-sama, memohon perlindungan dari Allah, Azza wa Jalla, agar azab dari Allah SWT, tidak kembali menimpa bangsa ini. Apakah masih tidak cukup sejumlah bencana alam yang mendera bumi pertiwi sejak 2004 hingga tahun 2007 untuk memberikan peringatan kepada para pemimpin Negara ini untuk segera bertaubat dan kembali “amanah”, menjalankan tugas bekerja sekuat tenaga untuk kepentingan rakyat Indonesia? Dan bukan untuk kepentingan rakyat Negara lain?



Dalam konteks politik, jelas hal ini bukan kebijakan cerdas, bagaimana mungkin, aspirasi dari pemilih mayoritas, dibiarkan berlalu bagaikan lolongan anjing ditengah hutan? Semoga saja, para pemilih mayoritas di Republik ini, tidak mengidap penyakit mudah lupa. Sehingga, kebijakan –kebijakan yang diambil oleh pemerintah saat ini dan telah merugikan dirinya dan komunitasnya, akan terus diingat untuk menjadi pertimbangan dan referensi dalam memilih pada masa pemilihan anggota dewan dan presiden tahun 2009 nanti. Apakah sedemikian bodohnya, rakyat Indonesia mencerna kalkulasi politik ini? Saya berdoa, semoga tidak. Karena jika tidak mampu mengambil pelajaran penting dari dua kebijakan yang telah diputuskan pada saat yang nyaris bersamaan: menaikkan harga BBM dan membiarkan Ahmadiyah, untuk referensi memilih di tahun 2009, artinya bencana itu memang telah dipilih sendiri oleh masyarakat bangsa ini.

23 May, 2008

Indonesia, Bisa?

Zaim Uchrowi pernah menulis Resonansi di Republika dengan nada sinis tentang slogan atau deklarasi yang coba ditawarkan oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam perhelatan kolosal peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional yang digelar 20 Mei 2008 di Istora Bung Karno.

Sinisme yang beralasan, sehingga harus tetap dihargai sebagai upaya yang bersangkutan untuk konsisten mengkritisi hal - hal yang menurut pengetahuan dan logikanya: kebangkitan yang yang terjadi pada dekade ini, tidak cukup layak untuk dirayakan. Atau bahkan dapat dikatakan tidak ada kebangkitan apa-apa! Berbeda dengan parameter yang digunakan tentang sejumlah langkah dan tindakan besar yang berhasil diukir oleh pada pahlawan nasional bangsa ini pada zamannya. Adalah berdirinya Sarekat Dagang Islam, yang dijadikan pembanding. Apa yang "berhasil" diraih oleh kita pada abad ini, sama sekali tidak sebanding dengan apa yang ditorehkan oleh para pendiri Sarekat. Tidak ada ruh kebangkitan yang terasa, ketika semangat nasionalisme surut menuju titik nol. Dimana asset bangsa makin banyak jumlahnya yang di kuasai asing, langsung maupun tidak langsung. Tidak ada lagi kebanggaan sebagai bangsa yang besar, ketika tidak ada satupun cabang olahraga di tingkat Olympiade yang mengantarkan bendera Merah Putih diperdengarkan kepada penduduk dunia. Ketika Indonesia diidentikkan dengan TKI dan TKW sebagai anak-anak bangsa yang mengemis pekerjaan, karena Negaranya sendiri tidak mampu memberikannya. Dan, masih banyak hal-hal yang kurang sedap untuk diceritakan diisi untuk menunjukkan bahwa kita belum layak meryakan atau memperingati kebangkitan sebuah bangsa. Mungkin itu yang menjadi pemikiran Zaim dalam tulisan tersebut.
Saya, tidak menampik apa yang menjadi kegalauan hati Zaim, karena benar adanya. Namun izinkan saya, berbagi perasaan dan pengalaman, karena hadir mengikuti perayaan tersebut. Pergerakan manusia dalam jumlah besar dari berbagai profesi, usia dan kalangan, disertai dengan kerja keras panitia yang menghelat acara tersebut, tetap meninggalkan kesan dan rasa, bahwa ada yang masih bisa kita kerjakan dan banggakan sebagai bangsa. Setidaknya, rasa nasionalisme yang tertidur, coba dibangkitkan sesaat, dengan mengingatkan kembali sejumlah keunggulan dan keragaman budaya yang dimiliki. Dinamika gerak para penari cilik dari berbagai kota di Indonesia, kesigapan tentara dan polisi melakukan demonstrasi bela diri tanpa senjata, sedikit banyak menggugah saya bahwa kita masih memiliki sesuatu. Setidaknya, TNI kita masih solid, budayawan dan para seniman kita masih kreatif dan istiqomah menjalani profesinya sebagai penjaga budaya bangsa. Para penggagas acara ini, rekan -rekan Trans TV dan Pak CT masih mau dan rela bekerja keras untuk membuat sebuah karya. Sekali lagi, bisa jadi ini hanya bersifat sesaat dimana acara berlangsung. Ya.. bisa jadi.
Sehingga, ketika kembali kepada realitas yang dihadapi dan bukan pada "dunia pertunjukan" yang dihadirkan di Gelora Bung Karno serta menggunakan indikator-indikator ekonomi makro kemudian dibandingkan dengan kondisi yang telah dicapai negara-negara tetangga. Tentu saja, "kebanggaan sesaat" itu, akan lenyap seketika!. Tinggal bagaimana, orang-orang seperti saya yang menikmati kebangkitan sesaat dapat terus memelihara perasaan tersebut dalam menjalani kehidupan yang benar nyata. Bagaimana saya, sebagai pribadi secara konsisten mampu mensugesti diri untuk terus berkarya bagi kepentingan bangsa dan negara, konsistensi saya sebagai warga negara saya yakini akan lebih terpelihara dan mencapai hasil yang maksimal jika mendapat dukungan dan arahan yang lebih komprehensif dari para pemimpin dan pejabat negara. Untuk mendukung kebutuhan ini, saya jadi teringat ucapan, Mas Erie Sudewo "ngurus satu orang miskin cukup dengan zakat fitrah, ngurus seratus orang miskin perlu lembaga amil zakat, kalo ngurus sejuta orang miskin perlu politik!". Politik dalam konteks ini adalah kebijakan negara. Sehingga, kebangkitan yang mungkin yang timbul pada individu-individu yang hadir dalam pertunjukkan tersebut, harus difasilitasi oleh negara sehingga benar -benar menjadi national movement yang dahsyat.
Kita memiliki KPK sebagai institusi yang kredibilitasnya makin terpelihara dan diakui, anak-anak kita sudah menjuarai sejumlah olympiade sains, para pekerja seni kita sudah 'mengganggu' popularitas seniman negara tetangga, kita punya Garin Nugroho, terakhir kita memiliki Sri Mulyani Indrawati, yang mampu mengalahkan level pengaruh Hillary Clinton menurut Forbes di jagat ini. Tak ketinggalan, keluarga Panigoro menunjukkan kelasnya sebagai world wide company di industri minyak dan pertambangan dan saya percaya masih banyak lagi yang dapat ditulis dialinea ini untuk menunjukkan bahwa Indonesia Bisa!

23 April, 2008

Menjadi Gubernur Cara Gue

"...PERMIOS, SEUEUR WARTOS HAREWOS KA PRIBADOS, TI KAWIT ANAK KOS, TUKANG BANDROS, PADAMEL POS, DUGI KA TUKANG SAOS, NYARIOS PAMINGPIN NU ENTOS2 TE KAHARTOS, TEU KARAOS, TEU BUKTOS, UKUR DAGANG WAOS, HAWATOS! NALIKA NYALON DEUI NEMBE SEUEUR BAKSOS. API2 BAGEUR NGABAGI KAOS SARENG ARTOS.. TOS SEPUH MAH KEDAH EMOT KANA WAKTOS, KEDAH RUMAOS TOS KOROPOS, KA AKHERAT BUTUH ONGKOS. WIOS AYEUNA MAH NU NGORA SIAP NGAGENTOS. HADE NOMOR 3 NUKUDU DICOBLOS. OKE BOS...?"

Hari ini, KPUD Jawa Barat, secara resmi mengumumkan pasangan Hade sebagai pemenang Pilkada untuk Gubernur dan Wakil Gubernur periode 2008 -2013. Selamat! Semoga kepercayaan yang telah diberikan pemilih dapat dijaga dengan sebaik-baiknya.
Menggunakan merek dan janji sebagai pemimpin muda kala kampanye, tentu harus diikuti dengan fakta. Kaum muda identik dengan keberanian untuk mengerjakan dan menggagas hal -hal baru, berfikir dan bertindak cepat dan tentu saja punya stok tenaga yang relative tidak ada habisnya. Dia akan terus bergerak dan menawarkan hal - hal aneh dan berbeda dari yang biasa kita lihat.
Disisi lain, birokrasi tetap birokrasi, ada tata aturan dan prosedur yang [kadang harus dihormati] karena ada pihak atau lembaga lain yang juga terlibat dalam aturan itu. Jadi, kita pun harus mengerti ini. Tantangannya kemudian, bagaimana birokrasi mampu mengakomodir cara dan kebutuhan pemimpin muda untuk merealisasikan model kepemimpinannya, memimpin cara gue! Cepat dan gak pake ribet. Realitas bahwa yang punya energi dan keinginan untuk menjadi muda hanya 2 (dua) orang dari ribuan aparatur Pemda Provinsi Jawa Barat, adalah agenda paling awal yang harus diselesaikan. Bagaimana menciptakan perubahan - perubahan kecil yang membuat aparatur "ngeh" dan melek, bahwa pemimpin baru memang sungguh - sungguh berbeda. Berani untuk menyederhanakan aturan protokole dapat dimulai dengan jangan terlalu sering pake baju safari yang ada "jengkol"nya. Persempit rentang atau rantai proses pembuatan keputusan yang mengerucut kepada Jawa Barat 1 dan 2 , dengan cara menyebarkan tanggungjawab kepada lebih banyak orang setingkat dibawahnya. Dan pastikan, tiap - tiap dinas yang ada dilingkungan kantor gubernur, setidaknya , membuat proses kerja yang lebih praktis dan cepat dari sebelumnya.
Kemudian, Jawa Barat tentu saja bukan hanya Bandung, Cirebon dan Purwakarta. Dia juga sampai ke Cinere dan Depok, rajin -rajinlah berkunjung kedaerah yang berbatasan dengan provinsi lain. Mengapa? acapkali, daerah - daerah perbatasan tidak terjamah karena masing-masing merasa ada yang mengurusnya. Jawa Barat menilai, bahwa Cinera pasti diurus oleh DKI, hal yang sama terjadi sebaliknya. Sehingga, pada galibnya tidak ada satupun yang serius mengurus infrastruktur di daerah perbatasan. Padahal kita tahu, untuk kondisi Cinere, banyak orang-orang yang bekerja di lingkungan pusat kekuasaan tetapi berdomisili di Jawa Barat. Sehingga, kinerja gubernur Jawa Barat akan segera menjadi obrolan orang-orang Jakarta, melalui kualitas infrastruktur yang ada.
Popularitas dan gen selebritis yang masih disandang Dede Yusuf, semoga menjadi katalisator untuk mampu mempercepat munculnya "keEdanan-keEdanan" ala bobotoh Persib, yang kreatif dan segar. Jadikan birokrasi sebagai ajang untuk berkreasi sehingga muncul terobosan -terobosan ala budak bandung. Melayani masyarakat dengan senyum, ramah dan penuh toleransi namun tetap disiplin ala tentara yang i kebetulan banyak terdapat di Cimahi. Selamat datang pemimpin muda, tunjukkan kalo cara elo beda!
"...Saur Dai di masigit oge, pilkada Jabar mah kudu Aman ameh hasilna Hade....."

01 April, 2008

Terimakasih Ma, I Love You


Minggu, 30 Maret 2008, adalah hari dimana Ibunda tersayang, Hj.Apong Paenusah, genap berusia enam puluh tahun. Bagi pengawai negeri sipil, enam puluh tahun adalah batas usia yang diberikan untuk mengakhiri pengabdiannya kepada negara. Jabatan terakhir yang berhasil diraihnya adalah Kepala Sekolah disalah satu Sekolah Dasar Negeri di Perumnas III Bekasi. Sebuah karir dan masa pengabdian panjang yang dimulai sebagai pengajar Taman Kanak- Kanak di Jatiluhur, kemudian Guru Taman Kanak - Kanak "Ketilang" di Bekasi, kemudian pindah menjadi Guru SD bersama dengan Bapak, sampai akhirnya menjadi Kepala Sekolah, Alhamdulillah.
Pengabdian sekaligus perjuangannya menjadi pegawai negeri, mengantarkan kami, lima orang anaknya dengan pencapaian sebagai berikut : saya, bekerja dan telah berkeluarga dengan tiga anak; Neni, adik saya sedang menempuh S2 Psikologi UNPAD , berkeluarga dengan dua anak; Ade, adik, selesai kuliah D3 dari Politeknik Negeri Bandung; Denny, adik saya [seharusnya] sedang menyelesaikan skripsi di FIKOM UNISBA, telah bekerja di salah satu harian Nasional, berkeluarga dan sedang menanti kelahiran jabang bayinya yang hari ini sekitar 19 minggu dan bungsu; Iif, adik bungsu saya, selesai kuliah dari FISIP UNPAD dan memulai karir kerjanya disalah satu penerbit kartu kredit kelompok finansial milik Amerika Serikat.
Yang istimewa dari kondisi diatas adalah, semua perjuangan untuk mengantarkan anak-anaknya berhasil sampai titik tersebut, dilakukannya seorang diri. Sejak Bapak meninggal tahun 1989,dimana saat itu saya lulus dari Sekolah Menengah Atas Negeri 1 di Bekasi, praktis semua biaya dan permasalahan yang dihadapi anak-anaknya, menjadi tanggung jawab, beban dan dipecahkan olehnya seorang diri.
Semoga, apa yang telah diabdikannya kepada Negara sekaligus bagi keluarga, menjadi bukti amanahnya beliau terhadap Allah SWT. Yang jauh lebih penting adalah kami anak-anaknya dapat membahagiakan beliau dengan cara sederhana seperti yang disampaikannya saat memberikan nasehat dalam rangkaian syukuran tersebut:
""Mamah ingin, anak-anak tetap hidup sesuai dengan syariat Allah, jangan tinggalkan
sholat. Doakan juga Mamah agar tetap sehat, namun jika harus menghadap Allah SWT, jangan sampai harus sakit yang akan memberatkan anak-anak Mamah dan keluarga yang lain"

Tentu saja, mendengar pesan demikian, membuat kami anak, cucu , menatu dan adik -adiknya yang datang dari Bandung, tak kuasa menahan air mata, sungguh betapa mulia hati Ibunda. Pujian atas dedikasi yang telah ditunjukkan sebagai anak tertua dari 11 bersaudara, mengalir atas perhatian, tanggung jawab serta pilihan menjalani hidup yang apa adanya, tidak mengada-ada, serta sifat adil dan kebijaksanaanya dalam membimbing beberapa adiknya yang ikut bertarung hidup di Bekasi, hingga akhirnya mampu meneruskan sekolah, bekerja, berkeluarga hingga saat ini.
Mah, tetap bahagia ya..menikmati hari pensiun. Mamah boleh kehilangan anak buah dan murid-murid SD yang mungkin akan dirindukan teriakan dan lari -lari kecilnya, sebagai anak-anak bangsa yang sekolah di sekolah yang Mamah pimpin. Mamah mungkin akan kehilangan sebagian kecil dari penghasilan yang Mamah terima untuk diberikan kepada cucu-cucu Mamah. Namun Mamah punya catatan dan kesan indah yang telah Mamah dengarkan sendiri dari Anak, Cucu dan Adik-Adik Mamah. Saatnya kini, menikmati hari Mamah dengan cara berbeda.
Selamat Ulang Tahun Mah, Selamat Menikmati Usia Keemasan dengan lebih banyak kesempatan yang untuk mempersiapkan bekal untuk perjumpaan dengan Bapak di Surga. Insyaallah

13 March, 2008

Pujian untuk Indonesia

Sudah lama, bangsa ini tidak mendapat pujian! Terakhir kita dipuji sebagai "macan Asia", bersama dengan Thailand, Malaysia dan China. Yang menjadi "macan beneran" ternyata cuma China, karena secara mengejutkan unjuk kinerja dan mulai berani menantang Amerika Serikat di sektor ekonomi. Sementara kita, harus sabar dan kembali bekerja keras, sehingga pujian sebagai macan Asia menjadi realita.


Dalam kunjungan kenegaraan, Presiden SBY mendapat pujian dari Ahmadinejad, Presiden Iran. Beliau memuji pemerintah Indonesia atas pilihan sikapnya untuk abstain dalam sidang Dewan Keamanan PBB, terkait dengan voting terhadap hukuman tahap III PBB, khususnya Dewan Keamanan, karena Iran dinilai bandel tetap mengembangkan teknologi nuklir. Pujian ini, layak kita terima, karena komitmen untuk melaksanakan amanat UUD dalam melaksanakan hubungan luar negeri yang menyatakan, kita memiliki azas Bebas Aktif . Saya sangat menikmati foto bagaimana Marty Natalegawa mengacungkan tangannya sendirian ditengah anggota Dewan Keamanan yang lain.


Pujian yang lain, layak kita berikan kepada Ibu Siti Fadilah Supari, Menteri Kesehatan, yang telah berani dan bersuara lantang menentang protokol / kebijakan World Health Organization (WHO). Mekanisme kerja Global Influenza Surveilance Network (GISN), masih menurut Ibu Menteri, sewenang-wenang memperlakukan negara berkembang. Keberanian beliau, menuntut perlakuan yang adil atas hak negara berkembang terhadap negara maju untuk mendapatkan vaksin dari sampel virus Avian Influenza, pada akhirnya harus diperjuangkan sendiri, sebagai bangsa di forum WHO. Ini langkah dan keberanian luar biasa yang ditunjukkan bangsa ini, sehingga protes beliau mendapat tanggapan yang serius dan akhirnya mampu mengubah mekanisme kerja GISN yang telah berjalan kurang lebih 40 tahun. Luar biasa.


Tentu, masih banyak prestasi bangsa ini yang akan menuai pujian. Kita tahu dan percaya, kita terlahir sebagai bangsa yang merdeka karena berjuang: berjuang merebut kemerdekaan dan sekaligus tetap berjuang mempertahankan kemerdekaannya. Catatan dan bukti sejarah yang demikian, sejatinya terus mengalir dalam darah dan jiwa kita semua. Untuk sebuah keyakinan dan kepercayaan, bahwa kita harus menjadi bangsa yang lebih baik, yang lebih mampu memberikan kesejahteraan, keamanan, kemakmuran dan harkat martabat sebagai bangsa yang besar dan Merdeka. []

Change Management

Adalah dua kata   sakti yang selalu digulirkan bersamaan dengan   momentum momentum berikut : merger, akuisisi, perubahan Bord of ...