19 April, 2006

Tersenyum, Karenanya Hidup Menjadi Lebih Indah



Seperti kata kebanyakan orang, tersenyum menjadikan hidup ini lebih indah. Tersenyum juga membuat diri menjadi lebih siap menyelesaikan masalah. Karena dengan tersenyum, akan timbul energi positif untuk mampu melihat setiap permasalahan dengan lebih jernih. Membuka sebanyak mungkin peluang penyelesaian masalah.

Namun diatas itu semua, senyum merupakan ibadah termurah yang dapat dilakukan manusia dan senyum juga merupakan sunnah dari Rasululloh Muhammad SAW.

06 April, 2006

Local Languange First ! Learning form Budayawan in Pekanbaru.


March 23, 2006 Indonesia Business Links in collaboration with Transparency International Indonesia, Pekanbaru, as a local partner run the Workshop on Business Ethics : “Managing Dilemma on Facilitating Payments” in Hotel Ibis, Lancang Kuning 2 Room, Pekanbaru. On this event, 54 participant come from government sector, civil society and private sector. They joint this workshop with very dynamic and meaningful discussion . We success to invite 3 ( three) resources person come to this workshop with this configuration :

•Mr. M. Nasir Day from Private Sector, from KADIN Pekanbaru (Pekanbaru Chamber of Commerce and Industry)
•Mr. Asep Rachmat Suwandha from KPK (Corruption Eradication Comision)
•Mr. Al Azhar from Cultural Observer and CSO Leader

Before panel discussion, Mr. Nasrun Effendi - one of candidate for next Mayor of Pekanbaru - on behalf of Riau Governor come and give Speech and officially open our Workshop. He said that corruption will be destroy the national character, more than that, for business reason, corruption will be a high cost economy, creating distrust from external investor to this country and against the social and economic right from citizen.

Initiative from governor of Riau, he set up One Stop Service ( Sistem Pelayanan Perizinan Satu Atap) in investment and already opening officially by Minister of Pendayagunaan Aparatur Negara ( MENPAN). The reason why they set up this office, because of the survey that mentioned one of the handicap of Riau from investor to invest , is bureaucracy.

The great things we get here, Mr. Al Azhar said, that terminology or definition of gratifikasi, as note at UU No. 21/2002, will be a basic handicap in Riau , as part of Melayu Culture Community in Region, and will be the same thing in another region Gratifikasi come from, gratikatie Deutch, not from local language. He said that, government or parliament member, should try and looking for local language first, before trying to use “ import” language.


Overall the program running very well and the participation from participant perfect. They very enthusiastic to participate the workshop until end of the program. (DNF-IBL)

15 February, 2006

Re Inventing CSR Workshop at AIM



February 6-10, 2006. I had a great opportunity from my office to attended the "1st Reinventing CSR" at Asian Institue of Management (AIM), Manila Philippine. This workshop followed by 29 participant from 4 country in Asia, Vietnam, Thailand, Indonesia and Philippine itself. From my office Indonesia Business Links (IBL), I went with Mrs. Chrysanti Sedyono Hasibuan ( Board of Management of IBL). Then, I met Mr. Billy P.Kadar from Astra International, Mr. Aldi Alizar from Golder Associate and Mrs. Mulyasti Dwi Narini from Bank Central Asia. So, Indonesia have 5 participant from 29.

How should we design our CSR programs? What social causes should we support? How do we integrate CSR in our core business strategy ? Are the guidelines on how to implement CSR effectively? Would be strategic questions which will be answered during the WOrkshop.

Corporate Social Responsibility (CSR) is becoming the mainstream business philosophy of today. To be on top of the corporate ladder, companies must engage themselves in issues thet their stakeholders care most about. Creating social value matters, but equally important is building business performance simultaneously. Traditionally, CSR in the form of philanthropy or corporate giving is not integrated in the business strategy. These traditional approaches have short term impact on society while bringing little bearing to business.

Having already accepted the relevance of CSR in business, companies are now wondering how by practicing CSR they could maximize both social and business performances ( Asian Insitute of Management - Ramon V. Del Rosario Sr - Center for Corporate Responsibility)

04 January, 2006

Bakti Untuk Emak


Bakti terakhir untuk
Emak, Nenek yang meninggal di usia 77 tahun, pada tanggal 31 Desember 2005. Menorehkan nama pada nisannya. Selamat Jalan, Mak, semoga Allah SWT memberikan tempat dan masa penantian yang menyenangkan. "Innaalillahi wa innaa ilaihi rooji'uun".

Kematian Orang Terdekat


Minggu, 31 Desember 2005, menjadi bukti kesempurnaan dari eksistensi dan hakikat keMahaEsaan Allah SWT. Dimana pada hari itu, keperkasaanNya, kembali ditunjukkan kepada keluarga kami. Emak, panggilan yang digunakan untuk menyebut Ibu sebenarnya, namun digunakan oleh seluruh cucu, menantu dan siapa saja yang terkait dengan keluarga besar ini, pada pukul 18.56 WIB dipanggil menghadap Sang Khalik Syariat yang dilaluinya, mengalami pendarahan di otak, karena alasan itu, beliau harus dioperasi di RS Al Islam, Bandung pada hari Selasa. Pasca operasi hingga Minggu pada tanggal dimana menjadi hari terkahir di tahun 2005, tidak ada komunikasi apapun dengan kelurga yang lain. Beliau, comma tidak mengalami tanda- tanda membaik. Hanya tarikan nafas yang dibantu oksigen dan suara dahak yang menghambat di daerah kerongkongan, yang menjadi tanda bagi kami bahwa beliau sedang mengalami hal yang buruk dalam bagian kehidupannya.


Rabu, 3 Januri 2006, Aa, sebutan yang digunakan oleh keluarga besar Ijal, suaminya Neni, pukul 09.00 WIB juga mengalami sunnatulloh yang sama. Karena usia yang semakin menua, beliaupun dipanggil oleh Allah SWT.

Bagi keluarga besar kami. Kedua figure ini adalah orang-orang yang memberi kontribusi besar bagi tumbuh dan berkembangnya keluarga kami, hingga sekarang. Karena kegigihan dan kesalehan merekalah, para orang tua kami mendapat pendidikan yang memadai bahkan jauh lebih dari cukup jika dibandingkan dengan orang – orang disekitarnya.

Tidak ada yang istimewa sebenarnya, lahir, tumbuh, tua dan pada akhirnya meninggal dunia adalah lakon dan frgamen hidup yang sangat standard. Tidak ada yang istimewa. Namun demikian, karena yang mengalaminya adalah orang-orang terdekat, ada kalkulasi dan perasaan lain yang muncul. Sungguh tidak terlalu mengenakkan.

23 December, 2005

Ketika ISO Menyoal Corporate Social Responsibility (CSR)

Ada anekdot menarik di kalangan engineer terkait dengan sebuah lembaga yang bernama resmi International Organization for Standardization (ISO) ini. Anekdotnya begini : “iso ora iso yo.. kudu iso”, dalam bahasa jawa ini kurang lebih artinya adalah “bisa ga bisa ya harus bisa”, dalam bahasa Inggris, frasa yang tepat mungkin it’s a must atau should be. ISO selama ini telah diakui sebagai lembaga yang memiliki reputasi untuk melakukan sejumlah standardisasi yang harus dipenuhi oleh industri maupun jasa di seluruh dunia. Sebut saja ISO 14000 mengenai environtmental managemen dan ISO 9001 tentang quality management system, untuk mewakili sejumlah ISO yang telah diterapkan dan berlaku saat ini. Legitimasi lembaga ini, dapat disetarakan dengan lembaga pemeringkat hutang seperti Standard and Poors untuk isu yang berbeda.

Dalam sebuah kesempatan, Noke Kiroyan, saat presentasi pada kegiatan 4th Annual Gathering Indonesia Business Links, dihadapan sejumlah pemimpin bisnis menyatakan bahwa Corporate Social Responsibility (CSR) akan menjadi isu dan komoditas berikutnya yang akan digulirkan oleh ISO untuk dipenuhi sertifikasinya. Dalam kesempatan tersebut, praktisi manajemen industri tambang ini, mengingatkan koleganya untuk lebih serius dan proporsional menyikapi hal ini. Serius dalam arti tidak menganggap enteng tuntutan dunia internasional terhadap komitmen perusahaan terhadap komunitas disekitar lokasi mereka berusaha. Sehingga sudah tidak pada jamannya lagi, praktek bisnis hanya mengedepankan profit sebagai indikator kesuksesan dan keberhasilan pemimpinnya.

Dalam kasus Indonesia, ditengah proses pembangunan definisi yang tepat mengenai CSR, pelaku bisnis yang selama ini relasi bisnisnya harus dilengkapi dengan sederetan ISO, rasanya tidak berlebihan jika harus mempersiapkan diri sedini mungkin. Karena jika ISO bernomer 26000 mengenai CSR ini diperkenalkan kepada publik, ya… kembali anekdot jawa tadi menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar. Meskipun, dalam rilis yang diambil dari website resmi ISO, standarisasi mengenai Social Responsibility, memang dinyatakan sebagai sesuatu yang tidak wajib, tetap saja ini akan menjadi trend yang akan naik daun di tahun 2008 dan harus dihadapi dengan sungguh –sungguh, jika ingin tetap eksis dalam dunia usaha.

Bagaimana Bersikap ?

Ada beberapa sudut pandang yang akan mengemuka terkait masalah ini. Pertama, bagi para penggiat CSR dan komunitas yang selama ini memang telah bermukim di kawasan island of integrity, tentu akan menyambutnya dengan suka cita. Karena kerja – kerja yang selama ini telah dilakukan lebih awal akhirnya mendapat pengakuan secara internasional.
Kondisi ini, seharusnya menjadi penambah semangat bahwa doing good by doing well , seperti tema sentral yang di usung oleh IBL dalam kegiatan Annual Gathering, 06 Desember lalu, tidak selamanya menjadi aktivitas yang hanya dilakukan oleh segelintir orang saja . Hal ini akan menjadi aktivitas massal yang dilakukan oleh banyak orang diberbagai bidang dan dibelahan dunia yang berbeda. Diatas itu semua hal yang jauh lebih penting , dengan diberlakukannya CSR sebagai bagian dari ISO, akselerasi dan end result dari yang selama ini dilakukan, diyakini akan semakin mudah tercapai. Hasil akhir yang dimaksud adalah “… the commitment of business to contribute to sustainable economic development , working with employees and their representatives, their families, the local community and society at large to improve quality of life, in ways that are both good for business and good for development.” ( Definition of CSR The World Bank Group version )

Kedua, bagi mereka yang berfikir dan bertindak short run, hal ini tentu saja akan dilihat sebagai komponen biaya baru yang terpaksa harus dicadangkan. Karena jika tidak akan mengganggu rantai proses produksi. Entah kecaman dari sejumlah aktivis atau bahwa ancaman boikot dari buyer atau end user. Terhadap pilihan – pilihan diatas, tentu akan dipengaruhi oleh referensi dan kematangan kita melihat fenomena yang sedang terjadi saat ini.

Yang menarik bagi Indonesia adalah, masih sangat sedikit pelaku bisnis yang aware terhadap isu ini. Dari yang sedikit aware pun masih terjadi perbedaan sudut pandang dan pemahaman apa dan bagaimana sesungguhnya CSR di perusahaannya masing-masing. Ada sejumlah kalangan yang menjadikan CSR sebagai bagian yang ditempelkan kepada social marketing dan tidak sedikit yang masih menerapkannya sebagai charity acitivity yang dilakukan bersamaan dengan peringatan ulang tahun perusahaan bahkan ketika terjadi bencana alam misalnya. Kondisi ini, jika tidak segera disiasati untuk segera dipecahkan sendiri formulasinya, dapat dipastikan akan dipaksa untuk mengikuti standard yang akan diterapkan oleh lembaga ISO tadi, tanpa pandang bulu. Jika sudah begini kondisinya, yang akan kita terima tentu saja pemaksaan – pemaksaan kehendak yang belum tentu sesuai dengan kondisi yang ada di Indonesia. Meskipun demikian, harapan kita penerapan ISO 26000 ini menjadi stimulir bagi tumbuhnya mentalitas pelaku bisnis yang lebih peduli dan memberi manfaat yang lebih banyak kepada masyarakat sekitar perusahaan berada.

Penutup

Untuk menghadapi diberlakukannya ISO 26000 di tahun 2008, mutlak dan penting rasanya bagi individu, komunitas bisnis, maupun lembaga – lembaga non pemerintah yang telah memiliki kompetensi untuk menyumbangkan pemikirannya mengenai CSR untuk bersedia secara sukarela melibatkan diri secara aktif dalam proses penyusunan standarisasi ini. Komitmen ini, sebagai bagian dari proses pembangunan karakter nasional (national character building) yang memiliki hak untuk terlibat dalam proses penyusunan kebijakan – kebijakan global yang akan diberlakukan (juga) di Negara ini. Ide konsorsium nasional yang mewakili kepentingan Indonesia, layak untuk segera dibuat dan bekerja bersama mengajukan sejumlah gagasan bagaimana seharusnya ISO 26000 diterapkan di Indonesia. Bukan saatnya lagi kita hanya menjadi objek dari sebuah kebijakan global, saatnya untuk bangkit berdiri dengan penuh percaya diri untuk melibatkan diri, karena Indonesia adalah bagian dari komunitas global yang penuh dengan kepentingan dan kesempatan. ISO 26000 seharusnya menjadi kepentingan dan kesempatan bangsa Indonesia untuk mendapatkan manfaat lebih banyak dari keberadaan sejumlah Multi National Coorporations dan perusahaan lokal yang melakukan aktivitasnya disini. Selamat Datang ISO 26000.


Disclaimer :
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mewakili pendapat organisasi dimana penulis beraktivitas.

03 December, 2005

Mangga Dua : Percaya Ga Percaya

Sabtu, 3 Desember 2005. Ketika sebagian besar orang tua sedang bercengkrama dengan keluarga dan anak-anaknya. Saya masih di Lantai 4 Mangga Dua Orion. Gila!
Pasalnya adalah sudah tidak ada toko yang buka, tidak ada lagi transaksi para pedagang DVD bajakan dan juga para mbak- mbak tukang jualan juice. Norak apa Sakti?

Ga keduanya, karena dari kejadian yang saya alami hari ini, semakin nyata bahwa kita tidak bisa mengelola masalah. Karena masalah tidak bisa kita prediksi apalagi kita atur. Masalah dan permasalahan memang cuma dan seharusnya digenggam. Karena dia memiliki logika dan kehendaknya sendiri. Rencana yang diharapkan cepat bisa menjadi lama. Keuntungan dan kemudahan, terkadang harus berbalas dengan kerugian dan banyak kesulitan. Kemakmuran acapkali berganti dengan kesengsaraan. Popularitas bahkan berubah wujud menjadi kehinaan. Disanalah seni menjalani hidup dan mematangkan kepasrahan kepada Sang Khalik.

Begini ceritanya, siang tadi selepas kondangan ke tetangga, saya ditemani Tasya dan Lia, niat ke Orion cuma mau mindahin data dari Outlook di Tecra 8100 ke VAIO yang baru dibeli-in kantor. Ketika pekerjaan tersebut berjalan, koq dengan santainya sejumlah virus menyerang. Sejumlah program dan data yang ada di VAIO, terpaksa harus di perbaiki. Gila ! Jadilah malam mingguan di salah satu toko di Orion...

Kenapa harus ngotot? Tinggalin aja kan bisa?
Hmm... ga bisa! I need time for my Mbay. Besok enakan nonton kuda di ArthaYasa Stable dan saya harus berangkat pagi di hari berikutnya, Senin 5 Desember. NAD, menanti untuk kesempatan ketiga. Jadi harus... harus selesai malam ini. Begitu yang saya katakan ke A Hong, taknisi di Orion ini. We make deal!

Kembali, apakah masalah ini saya inginkan, TIDAK SAMA SEKALI!
Tapi, sekali lagi pembaca, saya belajar sesuatu dari A Hong. Dia lulusan SMEA dari Bangka Belitung dan sangat piawai menguasai bahasa komputer. Apa rahasianya? Kerja keras, ulaet dan mau belajar. A Hong... mulai pegang komputer 1999 dan dia tidak pernah mengenyam pendidikan formal untuk ini.
Kerja keras, Ulet dan dan Mau Belajar, pelajaran yang saya dapat dari Mangga Dua, malam ini. Percaya Ga Percaya

Change Management

Adalah dua kata   sakti yang selalu digulirkan bersamaan dengan   momentum momentum berikut : merger, akuisisi, perubahan Bord of ...