17 November, 2008

Tim Catur Putri Indonesia Tekuk Tim Kuat Yunani di Dresden

Jakarta (ANTARA News) - Tim putri Indonesia masih bertahan tak terkalahkan hingga babak ketiga pada Olimpiade Catur ke-38 yang berlangsung di Dresden, Jerman, Minggu, setelah pada pertandingan babak ketiga itu menghentikan perlawanan tim tangguh unggulan ke-19 Yunani dengan skor 2,5 - 1,5.

Dengan kemenangan itu maka tim putri Indonesia kini berada di peringkat 12 dari 114 regu yang bertanding dari 112 negara, dan pada babak selanjutnya empat, Senin, akan menghadapi Rusia, demikian laporan Humas PB Percasi Kristianus Liem dari Dresden.

"Ini menjadi yang pertamakali tim putri Indonesia bertemu Rusia di Olimpiade Catur, Kalau bisa mengalahkan Rusia, saya akan berikan seribu dolar, dan jika seri lima ratus dolar," kata manajer tim Indonesia Riskie Dharma Putra di Dresden.

Menurut Riskie yang punya sekolah catur di Surabaya, ia baru saja menerima sms dari Wakil Ketua Umum PB Percasi GM Utut Adianto bahwa Menegpora menjanjikan hadiah satu milyar rupiah kalau tim putri Indonesia bisa mengalahkan tim putri Rusia.

Bintang Indonesia pada babak ketiga adalah Evi Lindiawati di papan dua dan pemain cadangan Kadek Iin Dwijayanti yang baru pertama kali diturunkan di papan empat menggantikan Desi Rachmawati yang diistirahatkan setelah mengalami kekalahan di babak kedua.

Evi (2121) yang main aman dan sederhana sejak awal pertahanan Sisilia variasi Kan, berhasil membuat kejutan dan mengalahkan GMW Anna Maria Botsari (2308) pada permainan akhir Gajah sewarna. Botsari yang merupakan pecatur berpengalaman melakukan kesalahan prinsipil pada langkah ke-43 ketika dalam posisi kalah satu bidak menolak pertukaran Gajah untuk masuk ke dalam permainan akhir Benteng yang peluang remisnya jauh lebih besar. Yang terjadi akhirnya permainan akhir Gajah sewarna dengan tiga bidak lawan empat bidak.

Disebut kesalahan prinsipil karena tiga dari empat bidak Botsari berada pada petak terang yang sewarna dengan Gajah Evi, dan sebaliknya lima bidak Evi justru berada di petak gelap atau tidak sewarna dengan Gajah Botsari sehingga tidak mungkin diambil. Akhirnya memang satu demi satu bidak Botsari "dipetik" Evi sehingga pecatur Yunani yang pernah ke Indonesia pada tahun 1993 itu menyerah pada langkah ke-56 setelah ketinggalan dua bidak.

Skor yang disumbangkan Evi langsung menyamakan kedudukan 1,5-1,5 setelah MIW Irene Kharisma Sukandar (2303) menahan remis papan satu Yunani yang sudah bergelar MI putra, GMW Yelena Dembo (2446) pada langkah ke-30, dan pahlawan hari sebelumnya Dewi Andhiani Anastasia Citra kalah dari GMW Marina Makropoulou (2265) pada langkah ke-43.

Kadek Iin (1859) yang paling akhir selesainya, membuat kubu Indoneisa tegang karena dalam krisis waktu yang parah, Kadek sempat tinggal satu detik baru melangkah, Kalau saja gerakan tangannya sedikit kurang cepat ia bisa kalah waktu. Gugupnya Kadek ternyata justru membuat lawannya, MIW Alexandra Stiri (2171) ikut nervous dan beberapa kali mengalami blankspot misalnya tidak melihat Gajahnya diancam. Stiri menyerah pada langkah ke-47 dan mendapat omelan rekan-rekannya karena main seperti orang bodoh akibat tak tahan didera krisis waktu sehingga Putri Indonesia menang 2,5-1,5.(*)

COPYRIGHT © 2008

05 November, 2008

Aulia Pohan, Sang Besan


Sebuah berita menggembirakan dan sangat dinantikan, terwujud sudah. Aulia Pohan, ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi aliran dana BLBI hari Rabu, tanggal 29 Oktober lalu oleh KPK. Praktis, hal ini menjadi headline disejumlah media massa cetak mapun elektronik dan bahan obrolan tak hanya di warung kopi pinggir jalan tetapi sampai juga ke café- café di gedung - gedung yang semakin menjulang tinggi di Jakarta.Penetapan status tersangka Aulia Pohan, sangat menarik dan memiliki kadar politis tinggi. Selain sebagai mantan Dewan Gubernur Bank Indonesia, beliau kebetulan adalah besannya SBY, seorang presiden aktif. Penetapan status tersangka kepada beliau, menunjukkan dua hal sekaligus. Pertama keberanian dan kesungguhan KPK dalam melakukan pemberantasan korupsi yang semakin teruji dan yang kedua komitmen politik SBY yang semakin jelas dan lugas untuk mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang bebas dari praktek korupsi. Sebuah sinergi yang secara langsung (seharusnya) menjadi hadiah terbesar bagi momentum kebangkitan Indonesia melalui perayaan Sumpah Pemuda yang sedang dirayakan denga tema Reborn Pemuda Indonesia oleh Kantor Menpora.

Selama masa pemeriksaan, tak kurang hampir semua analis meyakini beliau akan “diselamatkan”, toh sudah banyak tersangka lain, baik dari kalangan BI maupun DPR yang telah ditetapkan dan dijebloskan kedalam penjara. Aspek memenuhi rasa penasaran publik, terpenuhi sudah. Disamping itu, realitas hubungan kekeluargaan sebagai besan, tentu dianggap menyulitkan posisi SBY untuk tidak tergoda sekedar mengingatkan rekan-rekan di KPK. Faktanya kemudian, kita disuguhkan political will yang sangat bagus dan positif oleh sang Presiden, ketika pada akhirnya, beliau membiarkan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya tanpa melakukan intervensi sedikitpun. Buat saya, ini adalah bekal politik yang sangat bernilai untuk digunakan sebagai alat komunikasi kepada konstituen dan upaya meraih dukungan publik untuk tetap mengusungnya sebagai kandidat Presiden pada Pilpres 2009.

Setali tiga uang, ternyata KPK memang tidak bekerja untuk sekedar menyenangkan orang kebanyakan pun semata menjaga keseimbangan atau kepentingan politisi. Mereka tetap bekerja secara serius dan sungguh – sungguh untuk mengejar pelaku korupsi sampai keujungnya. Salute untuk KPK. Semoga momentum dan pencapaian yang selama ini telah dicapai, akan terus menjadi energi positif bagi KPK untuk melakukan lebih banyak hal terutama dalam domain pemberantasan korupsi.

Apatisme yang saya dengar dari para ABG tentang masa depan bangsa ini, dan harapan akan status quo dari mereka yang memang diuntungkan dengan kondisi yang masih terjadi, atas korupsi yang sudah akut dalam kehidupan bangsa kita, semoga terbantahkan dan membalikkan kondisi apatisme menjadi optimisme. Momentum ini, harus menjadi peluru bagi gerakan pemberantasan korupsi seiring dengan peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda. Tentu, tidak hanya upaya penyidikan dan penangkapan yang dilakukan KPK, kita pernah mendengar bahwa mereka juga melakukan langkah – langkah serta upaya pencegahan yang ditujukan untuk kalangan muda dan para pelajar serta mahasiswa. Kampanye atau inisiasi pendirian “warung kejujuran” di sejumlah sekolah, lomba pidato dan pembuatan poster serta lagu atau hyme pemberantasan Korupsi adalah sebagain kecil yang saya ketahui. Terakhir yang relative lebih strategis adalah upaya untuk membuat modul tentang nilai - nilai kepribadian yang positif, seperti kerja keras, jujur, disiplin yang akan dimasukkan dalam kurikulum sekolah sungguh upaya yang perlu mendapat sambutan dan dukungan dari kalangan pengajar maupun pengelola lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta yang ada di Indonesia.

Kembali kepada Aulia Pohan, semoga beliau dan sejumlah tersangka lainnya merelakan dirinya, menjadi bagian dari sejarah bangsa ini. Menjadi saksi hidup dan nyata bahwa ada masa dimana bangsa ini memang serius untuk maju, dengan cara memberi kesempatan untuk betobat dan memperbaiki sisa masa hidupnya kepada Bapak-Bapak/Ibu-Ibu yang sempat lupa akan tangungjawabnya sebagai pejabat pemerintah dengan melakukan tindakan-tindakan yang tidak sepatutnya dilakukan. Tak kurang kita punya sejumlah role model yang layak dicatat sejarah sebagai pelajaran bagi kita semua: ada Jaksa Urip Gunawan, ada Gubernur Abdullah Puteh, ada Bupati Syaukani H.R, ada Kepala Badan Urusan Logistik ada penyidik KPK sendiri. Semoga kehadiran mereka ini, menjadi awal baru untuk kembali menatap masa depan Indonesia yang lebih bersih dan mampu mensejahterakan lebih banyak rakyatnya. Bukan lagi Indonesia yang menyenangkan bagi segelintir kecil orang yang sejahtera sendirian karena korupsi.

Kembali ke Kampus UNPAD


Minggu, 26 Oktober 2008 di Kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran di Jatinangor. Menjadi hari dimana suasana hati menjadi mellow karena kesempatan untuk bernostalgia atas sebuah perjalanan hidup, fragmen sebagai mahasiswa kembali hadir. Bersama dengan Achadiat Nurhikmat (Kang Imat), sahabat saya sejak tahun 1991, saya penuhi undangan dari rekan-rekan Angkatan 2006 yang menjadi Panitia Orientasi jurusan Kesejahteraan Sosial yang dibungkus dengan tittle: Social Welfare on Training (SWoT 2008).

FISIP Setelah 12 Tahun Kemudian


Kesempatan menjadi salah seorang pembicara dalam kegiatan Social Welfare on Training (SWOT 2009) sungguh membahagiakan dan menjadi anugerah buat saya. Ilmu yang selama ini didapat di Kampus, pengalaman kerja, pengetahuan dan jejaring yang selama ini dibuat selama perjalanan menggeluti dunia kerja, ternyata dibutuhkan oleh rekan -rekan mahasiswa baru angkatan 2008 untuk sekedar membangun road map akan perjalanan yang akan dihadapinya sebagai mahasiswa.

Kampus mengalami banyak perubahan. Lebih rindang, banyak bangunan baru dan sebuah Musholla yang ditata sebagai gazebo sehingga memungkinkan untuk dijadikan tempat nongkrong dan kongkow bagi siapa saja. Saat ini sudah tersedia, ruang seminar yang cukup representative yang dipadukan dengan ruang-ruang kecil bagi aktifitas mahasiswa yang memilih untuk menjadi penggiat di jurusan maupun di tingkat fakultas.

NGO Sebuah Alternative untuk Mahasiswa Kesejahteraan Sosial

Dalam kesempatan ini, saya diminta untuk bertutur tentang dinamika yang terjadi di dunia NGO (Non Government Organization), berbekal pengalaman pernah bekerja di ALNI (Asian Labour Network on International Financial Institutions) dan IBL (Indonesia Business Links), saya sampaikan sejumlah requirements and competencies yang harus dipersiapkan oleh mahasiswa yang ingin menggeluti profesi sebagai penggiat NGO. Mempertimbangkan waktu yang terbatas, dari sejumlah persyaratan dan kondisi tiga hal yang saya sampaikan adalah: pertama research analysis, kedua networking dan ketiga relationship. Research Analysis diperlukan untuk memastikan program kerja yang akan dilakukan sesuai dengan realitas dan kebutuhan masyarakat. Publikasi hasil riset, selain mampu menjadi credit point bagi eksistensi organisasi/lembaga juga diharapkan menjadi alat ukur atas kondisi yang sedang terjadi sekaligus potret dari kondisi dimasyarakat. Kompetensi riset, akan mereka dapatkan dari mata kuliah Pengantar Penelitian Sosial, Metode Penelitian dan Metode Penelitian Pekerja Sosial. Ilmu pendukung yang akan membekali mereka untuk memperkuat adalah Sosiologi, Antropologi.

Networking dan relationship, merupakan kompetensi dasar, dikenal juga dengan term soft skill yang diperlukan untuk menjalani kehidupan dengan kualitas yang baik. Tidak hanya untuk alumni Kesejahteraan Sosial (KS) tetapi untuk profesi dalam bidang apapun. Khusus untuk mereka alumni KS yang akan memilih NGO sebagai ladang pengabdian pasca kampus, kemampuan menjalin networking menjadi kompetensi dan keahlian dasar yang mutlak untuk mendukung terlaksananya sebuah program dan pengembangan organisasi. Keterbatasan resources, berbanding terbalik dengan problem masyarakat yang dihadapi. Sementara, ada banyak sumber yang juga terbatas namun memiliki ketertarikan yang sama untuk melakukan sesuatu untuk masyarakat yang mengalami masalah atau keterbatasan yang lain. Kemampun melihat dan menjembatani sejumlah resources inilah yang akan bermanfaat besar dalam kehidupan seorang penggiat NGO. Tidak hanya masalah dana atau funding tetapi juga hal-hal yang terkait dengan kompetensi keahlian, dan sinergi program. Laksana menyusun puzzle, kemampun networking, menjadikan noktah atau pecahan program yang dilaksanakan oleh sebuah lembaga dapat tersusun menjadi gambar yang utuh dan jauh lebih Indah untuk membangun masyarakat Indonesia yang lebih maju dan sejahtera. Keahlian ini dapat terasah dengan baik, karena selama menjalani masa perkuliahan akan menerima mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi, Pengantar Ilmu Politik dan Sistem Ekonomi Indonesia.

Relationship, dalam pemahaman saya, adalah sebuah kemampuan yang terbangun dari pengetahuan sekaligus teknik yang lebih mengarah kepada seni bagaimana menjalin hubungan personal dengan sebaik-baiknya. Pemahaman dan kemampuan khusus dalam menyelami kepribadian seseorang akan membantu kita dalam mengungkapkan kehendak kita. Manfaat lain, kemampuan mencermati kondisi psikologis orang lain, akan memudahkan kita mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mengajukan sejumlah gagasan atau program kerja sesuai dengan mood yang sedang terjadi pada orang yang bersangkutan. Membangun, memelihara dan mengembangkan relationship tentu saja memerlukan investasi, terutama waktu, yang tidak sebentar. Sehingga selama rentang waktu tersebut, diperlukan konsistensi dalam membangun citra diri yang positif yang pada akhirnya akan menjelma menjadi integritas pribadi yang mumpuni. Menjadi orang yang dapat dipercaya, tidak pernah cedera janji dan mampu menunjukkan sebagai pribadi yang dapat diandalkan, memudahkan kita untuk melakukan sejumlah kerjasama bisnis sekaligus program pada masa yang akan datang.

Penutup

Kompetensi dasar, terutama yang saya sampaikan dalam penjelasan diatas, dua diantaranya, yaitu networking dan relationship akan terasah jika selama menjalani masa perkuliahan rekan-rekan mahasiswa baru turut aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, baik ditingkat jurusan, fakultas apalagi jika mampu di tingkat universitas. Dalam skala yang paling minim, setidaknya kembangkan kompetensi diri melalu aktivitas di tingkat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang sesuai dengan minat dan ketertarikan yang dimiliki.

Saya percaya, jika kehidupan selama menjadi mahasiswa diisi dengan hal-hal yang positif akan menjadi investasi sekaligus kenangan yang tidak akan terlupakan.

Selamat! Anda telah menjadi bagian dari sedikit masyarakat Indonesia yang beruntung mampu mengenyam pendidikan di tingkat tinggi.

20 October, 2008

Menelusuri Gusuran Bursa Buku Kwitang




Sebagai pecinta buku bekas (bermutu) saya merasa kehilangan dengan digusurnya pedagang buku Kwitang, Senen Jakarta Pusat. Di bekas lokasi terpampang spanduk yang menginformasikan pedagang buku kwitang pidah ke Bursa Buku Murah di lantai IV Proyek Senen tak jauh dari lokasi gusuran. Saya pun menjuju ke sana dan menjumpai para pedagang yang mulai menggelar buku-buku dan majalah. Masih banyak yang belum buka mungkin karena ragu karena pengunjung masih sepi. Harga buku nampaknya di banting karena selama masa transisi ini para pedagang perlu punya penghasilan untuk menghidupi asap dapur di rumah. Pengunjung kebanyakan pelajar dan mahasiswa yang mencari buku berharga miring dan buku-buku yang sukar di cari di toko buku.

Rupanya tidak semua pedagang buku Kwitang pindah ke Proyek senen. Sekitar 50 pedagang memilih pindah ke Mall Jakarta City Center (JaCC), Jl. Waduk Melati Raya, lantai 3 A belakang Hotel Indonesia. Di Mall JaCC ini, buku-buku dan majalah yang ditawarkan juga beraneka ragam dan cukup menarik, harganya juga murah. Lokasinya sudah tentu lebih nyaman ber AC pula. Mereka boleh berdagang dengan sewa kios yang terjangkau yaitu Rp 300.000 untuk dua tahun. Lumayan murah, namun mana pembelinya? Sama seperti di Proyek Senen lantai IV, pengunjung masih sepi! Tinggallah menginformasikan agar para pencinta buku mengetahui
lokasi ke dua tempat baru ini.

Di Mall memang telah terpampang spanduk besar Bursa Buku Murah tapi pengunjung mall juga tak seberapa, sehingga yang mampir ke lantai 3A dapat dihitung dengan jari. Padahal sekitar 50 pedagang menanti pembeli. Seperti biasa Pemda DKI rupanya sudah merasa puas jika para pedagang buku Kwitang sudah mendapatkan tempat penampungan, soal sosialisasi rupanya bukan merupakan kepedulian mereka.

Nah, apakah mereka bisa dapat bertahan dI lokasi baru jika masyarakat belum mengetahui keberadaan lokasi baru mereka. Saya khawatir dalam satu atau dua bulan lokasi ini akan bubar, bukan karena digusur tapi para pedagangnya tak punya daya tahan karena sepinya pengunjung. Mampukah mereka bertahan satu bulan tanpa penghasilan, sambil harus terus menunggu pembeli? Kita mungkin dapat membantu menginfomasikan keberadaan mereka dan para pencinta buku masih dapat memilih buku-buku kesukaan mereka dengan harga yang terjangkau.




Penulis: Samsuridjal Djauzi (Indonesian-FACT@yahoogroups.com)

29 September, 2008

Paradoks Lebaran




Ketika lebih banyak tulisan yang menganalisa fenomena lebaran dari sisi budaya, tentu saja “high cost economy” ala keluarga tidak akan pernah bertemu dengan logika rasional secara ekonomis. Begitu juga dengan komentar dari teman saya, realitas pemudik yang harus bertarung untuk mendapatkan moda transportasi yang sesuai dengan isi kantong, sungguh diluar kesanggupannya, untuk dapat memahami bahwa biaya tinggi dan susah payah yang harus dijalani pasti terbayar kala tangan dan pelukan anak besentuhan dengan tangan dan pelukan Ibu/Bapaknya. Rasa syukur, suka cita dan kegembiraan yang terjadi sesaat, menjadi tenaga yang sangat besar untuk setia kembali ke perantauan untuk menjalani hari – hari yang tidak bisa dibilang mudah pada ratusan hari lainnya ditahun depan.

Paradoks lain, Lebaran bukan tempat dan tidak dimaknai sebagai peristiwa untuk berboros-boros ria. Hal ini juga tidak bisa dipahami karena harga dari sebuah perjuangan dan penderitaan tanah rantau sepanjang tahun sebelumnya harus “dirayakan”, dengan menunjukkan sejumlah kemampuan untuk membeli ini dan itu. Simbolisasi dari sukses dan keberhasilan menapaki jalan hidup, dalam tataran tertentu dan dengan kadar yang cukup, adalah kebahagiaan dan bentuk syukur kepada pemberi rizqi. Sebagai bentuk syukur, tentu diizinkan untuk berbagi dengan membelikan ini dan itu kepada sanak saudara dan handai taulan. Tentu boleh juga sekedar menunjukkan bahwa saya saat ini sudah mampu membeli mobil atau motor seri terbaru. Harapan positifnya, mampu memotivasi saudaranya untuk berani meninggalkan kampong halaman untuk pergi ke perantauan, agar tahun depan mampu membeli ini dan itu.

Pagi ini, saya mendapat (balasan) sms dari Ananto teman saya, begini sms yang saya terima dalam tiga pesan yang terpisah, sms pertama: Takbir IDUL FITRI jadi tanda kemenangan? dari apa, hawa nafsu? Gimana tetangga rumah yg kurang makan, belum bayar kontrakan, ngutang di warung dan sekolah anaknya. Sms kedua: kemenangan, kemenangan macam apa yang kita rayakan. Sudahkan terlintas dana pulang kampung kita kasih aja ke yg belum bayar kontrakan, atau dana perayaan dialihkan untuk yang papa dan ini smsnya yang terakhir: akhirnya. Kullu man ’alaaiha fan. QS 55:26. Sebuah rangkaian balasan sms yang menarik perhatian saya, ketika saya mengirimkan ucapan selamat merayakan Hari Kemenangan Idul Fitri 1429H, lebih awal kepada beberapa teman, kolega dan sejumlah senior saya. Ananto termasuk diantara mereka yang berkesempatan menerima digelombang pertama. Mungkinkah pertanyaan retorik ini bisa diamini dan diikuti oleh mereka yang merasa perlu dihargai jerih payahnya dengan cara memenuhi hasrat-hasrat dirinya, yang bisa jadi selama ini terpaksa terkekang, karena keterbatasan yang melingkupi dirinya?

Lebaran, termasuk ritual ibadah lainnya seperti haji, terutama di Indonesia buat saya, memang masih sarat paradoks. Perpaduan antara perayaan atas keberhasilan menjalankan ibadah puasa selama Ramadhan nan agung (religiousitas) dengan prosesi 'unjuk gigi' atas perjalanan hidup manusia selama 11 bulan dalam mencari harta, kedudukan dan kekuasaan. Kesederhanaan ajaran dan pentingnya substansi dari esensi dari setiap ritual peribadatan seringkali diperumit dengan hal – hal yang artifisial dan kultural.

Rasanya, memang tidak pada tempatnya untuk memaksakan idealisasi sebuah peristiwa Lebaran dengan satu sudut pandang, karena setiap orang yang merayakan dan terlibat didalamnya memiliki kepentingan dan paham akan tafsirnya sendiri-sendiri. Saya pribadi, memilih jalan tengah saja diantara titik-titik ekstrem pendapat tersebut. Memahami kebutuhan aktualisasi para saudara kita yang mudik dengan susah payah dan telah bekerja keras “mengumpulkan barang bawaan” selama satu tahun, sepanjang tuntunan secara syariat terkait dengan terpenuhinya zakat dan uang yang digunakannya berasal dari sumber yang halal. Sehingga, sisi – sisi positif dari budaya mudik, dapat dibungkus secara benar dan halus dengan ketaatan kepada pedoman yang telah ditentukan oleh Dzat yang Maha Pemberi Kegembiraan dan Maha menguasai Kemenangan.

Selamat Idul Fitri 1429 Hijriyah.
Mohon Maaf Lahir dan Batin.

16 September, 2008

Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia

Disclaimer:
Tulisan ini berasal dari inbox email yang saya terima dari salah seorang rekan saya, Gunawan Imron (imron_gunawan@indocement.co.id) yang bekerja di salah satu industri semen di Jawa Barat. Semoga kiriman ini bermanfaat, seiring dengan suasana Ramadhan yang penuh barokah.
---------------------------------------------------------------

Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi'in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :
1. Qalbun Syakirun atau hati yang selalu bersyukur. Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona'ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu: "Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita". Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap "bandel" dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!
2. Al Azwaju Shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh. Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggung-jawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.
3. Al-Auladun Abrar, yaitu anak yang soleh. Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu: "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: "Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ? "Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: "Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu". Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.
4. Albiatu Sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita. Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.
5. Al Malul halal, atau harta yang halal. Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sodaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu berdoa sudah bagus", kata Nabi SAW, "Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan". Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.
6. Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama. Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng "hidup" kan hatinya, hati yang "hidup" adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.
7. Umur yang baroqah. Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat "hidup" orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah. Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas R.A. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia. Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu' mungkin membaca doa `sapu jagat', yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut "Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw" (yang artinya "Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia "), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah. Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri. Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu "wa fil aakhirati hasanaw" (yang artinya "dan juga kebahagiaan akhirat"), untuk memperolehnya hanya lah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah. Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah. Kata Nabi SAW, "Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga". Lalu para sahabat bertanya: "Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?". Jawab Rasulullah SAW : "Amal soleh saya pun juga tidak cukup". Lalu para sahabat kembali bertanya : "Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?". Nabi SAW kembali menjawab: "Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata". Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).

09 June, 2008

Ahmadiyah dan Kekerdilan Pemerintah Kita

Insiden 1 Juni 2008 di kawasan Monumen Nasional, dan rangkaian peristiwa ikutannya, menjadi bukti nyata dimana keberpihakan pemerintah regim ini. Tak puas dengan kebijakan menaikan harga BBM, pemerintahan yang dipimpin SBY-JK ini melengkapi kepatuhannya kepada kepentingan asing dengan membiarkan Ahmadiyah dalam posisi yang menggantung, tanpa keberanian untuk mengeluarkan keputusan berupa SKB yang menurut Jaksa Agung, sudah siap untuk dikeluarkan. Insiden (kekerasan dan penyerangan) di Monas, harus menjadi keprihatinan kita bersama, tetapi semoga kita tidak kehilangan pandangan akan akar masalahnya. Akar masalah yang sebenarnya adalah “kedunguan” pemerintah dalam menangkap aspirasi masyarakat yang dicampur dengan “ketololan” berlebihan dalam mengikuti kepentingan asing, terkait dengan ajaran sempalan yang bernama Ahmadiyah. Lambatnya pemerintah mengeluarkan larangan terhadap ajaran Ahmadiyah, menjadi “kata kunci” yang harus menjadi desakan kita bersama kepada pemerintah, agar permasalahan ini menjadi cepat selesai dan jernih solusi yang dipilihnya. Konflik horizontal yang terjadi di Jakarta, bukan tidak mungkin akan merembet ke tempat –tempat lain, solidaritas massa karena issue agama, dibelahan bumi manapun dan kapanpun menjadi bahan bakar paling efektif untuk menyulut kerusuhan massa. Tentu saja kita tidak rela hal ini akan terjadi lagi, saat ini, kala kelaparan dan beban hidup yang semakin berat karena kenaikan harga BBM, telah merenggut sejumlah nyawa saudara-saudara kita.



Orientasi kebijakan yang mengedepankan kepentingan asing, dalam konteks Ahmadiyah adalah kepentingan Inggris dan Amerika Serikat, menjadi bukti yang terang benderang bahwa patriotism dan semangat 100 Tahun Kebangkitan Nasional yang baru saja digelar, sama sekali tidak berbekas, alias kamuflase belaka. Bagaimana mungkin, sudut pandang, aspirasi dan kajian mendalam yang telah dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Forum Umat Islam (FUI), yang telah bulat menyatakan Ahmadiyah telah melanggar kaidah pokok agama Islam, dibiarkan saja? Tidakkah SBY dan JK sadar, ada sebuah proses penelitian dan pengamatan panjang yang telah dilakukan, tak terbilang, buku – buku dan kitab referensi yang telah dikaji, hingga pada akhirnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta pemerintah untuk segera melarang ajaran Ahmadiyah. Jika bukan karena adanya kepentingan asing, alasan apalagi yang hendak diujarkan? Tidakkah sudah pada tempatnya, kalangan umaro mendengarkan pendapat ulama, untuk masalah – masalah yang terkait dengan urusan peribadatan dan keimanan? Jika umaro sudah tidak lagi mau mendengarkan pendapat ulama, sebagai bagian dari warga Negara, rasanya kita harus bersiap –siap untuk melantunkan istighfar bersama-sama, memohon perlindungan dari Allah, Azza wa Jalla, agar azab dari Allah SWT, tidak kembali menimpa bangsa ini. Apakah masih tidak cukup sejumlah bencana alam yang mendera bumi pertiwi sejak 2004 hingga tahun 2007 untuk memberikan peringatan kepada para pemimpin Negara ini untuk segera bertaubat dan kembali “amanah”, menjalankan tugas bekerja sekuat tenaga untuk kepentingan rakyat Indonesia? Dan bukan untuk kepentingan rakyat Negara lain?



Dalam konteks politik, jelas hal ini bukan kebijakan cerdas, bagaimana mungkin, aspirasi dari pemilih mayoritas, dibiarkan berlalu bagaikan lolongan anjing ditengah hutan? Semoga saja, para pemilih mayoritas di Republik ini, tidak mengidap penyakit mudah lupa. Sehingga, kebijakan –kebijakan yang diambil oleh pemerintah saat ini dan telah merugikan dirinya dan komunitasnya, akan terus diingat untuk menjadi pertimbangan dan referensi dalam memilih pada masa pemilihan anggota dewan dan presiden tahun 2009 nanti. Apakah sedemikian bodohnya, rakyat Indonesia mencerna kalkulasi politik ini? Saya berdoa, semoga tidak. Karena jika tidak mampu mengambil pelajaran penting dari dua kebijakan yang telah diputuskan pada saat yang nyaris bersamaan: menaikkan harga BBM dan membiarkan Ahmadiyah, untuk referensi memilih di tahun 2009, artinya bencana itu memang telah dipilih sendiri oleh masyarakat bangsa ini.

Change Management

Adalah dua kata   sakti yang selalu digulirkan bersamaan dengan   momentum momentum berikut : merger, akuisisi, perubahan Bord of ...