04 January, 2006

Bakti Untuk Emak


Bakti terakhir untuk
Emak, Nenek yang meninggal di usia 77 tahun, pada tanggal 31 Desember 2005. Menorehkan nama pada nisannya. Selamat Jalan, Mak, semoga Allah SWT memberikan tempat dan masa penantian yang menyenangkan. "Innaalillahi wa innaa ilaihi rooji'uun".

Kematian Orang Terdekat


Minggu, 31 Desember 2005, menjadi bukti kesempurnaan dari eksistensi dan hakikat keMahaEsaan Allah SWT. Dimana pada hari itu, keperkasaanNya, kembali ditunjukkan kepada keluarga kami. Emak, panggilan yang digunakan untuk menyebut Ibu sebenarnya, namun digunakan oleh seluruh cucu, menantu dan siapa saja yang terkait dengan keluarga besar ini, pada pukul 18.56 WIB dipanggil menghadap Sang Khalik Syariat yang dilaluinya, mengalami pendarahan di otak, karena alasan itu, beliau harus dioperasi di RS Al Islam, Bandung pada hari Selasa. Pasca operasi hingga Minggu pada tanggal dimana menjadi hari terkahir di tahun 2005, tidak ada komunikasi apapun dengan kelurga yang lain. Beliau, comma tidak mengalami tanda- tanda membaik. Hanya tarikan nafas yang dibantu oksigen dan suara dahak yang menghambat di daerah kerongkongan, yang menjadi tanda bagi kami bahwa beliau sedang mengalami hal yang buruk dalam bagian kehidupannya.


Rabu, 3 Januri 2006, Aa, sebutan yang digunakan oleh keluarga besar Ijal, suaminya Neni, pukul 09.00 WIB juga mengalami sunnatulloh yang sama. Karena usia yang semakin menua, beliaupun dipanggil oleh Allah SWT.

Bagi keluarga besar kami. Kedua figure ini adalah orang-orang yang memberi kontribusi besar bagi tumbuh dan berkembangnya keluarga kami, hingga sekarang. Karena kegigihan dan kesalehan merekalah, para orang tua kami mendapat pendidikan yang memadai bahkan jauh lebih dari cukup jika dibandingkan dengan orang – orang disekitarnya.

Tidak ada yang istimewa sebenarnya, lahir, tumbuh, tua dan pada akhirnya meninggal dunia adalah lakon dan frgamen hidup yang sangat standard. Tidak ada yang istimewa. Namun demikian, karena yang mengalaminya adalah orang-orang terdekat, ada kalkulasi dan perasaan lain yang muncul. Sungguh tidak terlalu mengenakkan.

23 December, 2005

Ketika ISO Menyoal Corporate Social Responsibility (CSR)

Ada anekdot menarik di kalangan engineer terkait dengan sebuah lembaga yang bernama resmi International Organization for Standardization (ISO) ini. Anekdotnya begini : “iso ora iso yo.. kudu iso”, dalam bahasa jawa ini kurang lebih artinya adalah “bisa ga bisa ya harus bisa”, dalam bahasa Inggris, frasa yang tepat mungkin it’s a must atau should be. ISO selama ini telah diakui sebagai lembaga yang memiliki reputasi untuk melakukan sejumlah standardisasi yang harus dipenuhi oleh industri maupun jasa di seluruh dunia. Sebut saja ISO 14000 mengenai environtmental managemen dan ISO 9001 tentang quality management system, untuk mewakili sejumlah ISO yang telah diterapkan dan berlaku saat ini. Legitimasi lembaga ini, dapat disetarakan dengan lembaga pemeringkat hutang seperti Standard and Poors untuk isu yang berbeda.

Dalam sebuah kesempatan, Noke Kiroyan, saat presentasi pada kegiatan 4th Annual Gathering Indonesia Business Links, dihadapan sejumlah pemimpin bisnis menyatakan bahwa Corporate Social Responsibility (CSR) akan menjadi isu dan komoditas berikutnya yang akan digulirkan oleh ISO untuk dipenuhi sertifikasinya. Dalam kesempatan tersebut, praktisi manajemen industri tambang ini, mengingatkan koleganya untuk lebih serius dan proporsional menyikapi hal ini. Serius dalam arti tidak menganggap enteng tuntutan dunia internasional terhadap komitmen perusahaan terhadap komunitas disekitar lokasi mereka berusaha. Sehingga sudah tidak pada jamannya lagi, praktek bisnis hanya mengedepankan profit sebagai indikator kesuksesan dan keberhasilan pemimpinnya.

Dalam kasus Indonesia, ditengah proses pembangunan definisi yang tepat mengenai CSR, pelaku bisnis yang selama ini relasi bisnisnya harus dilengkapi dengan sederetan ISO, rasanya tidak berlebihan jika harus mempersiapkan diri sedini mungkin. Karena jika ISO bernomer 26000 mengenai CSR ini diperkenalkan kepada publik, ya… kembali anekdot jawa tadi menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar. Meskipun, dalam rilis yang diambil dari website resmi ISO, standarisasi mengenai Social Responsibility, memang dinyatakan sebagai sesuatu yang tidak wajib, tetap saja ini akan menjadi trend yang akan naik daun di tahun 2008 dan harus dihadapi dengan sungguh –sungguh, jika ingin tetap eksis dalam dunia usaha.

Bagaimana Bersikap ?

Ada beberapa sudut pandang yang akan mengemuka terkait masalah ini. Pertama, bagi para penggiat CSR dan komunitas yang selama ini memang telah bermukim di kawasan island of integrity, tentu akan menyambutnya dengan suka cita. Karena kerja – kerja yang selama ini telah dilakukan lebih awal akhirnya mendapat pengakuan secara internasional.
Kondisi ini, seharusnya menjadi penambah semangat bahwa doing good by doing well , seperti tema sentral yang di usung oleh IBL dalam kegiatan Annual Gathering, 06 Desember lalu, tidak selamanya menjadi aktivitas yang hanya dilakukan oleh segelintir orang saja . Hal ini akan menjadi aktivitas massal yang dilakukan oleh banyak orang diberbagai bidang dan dibelahan dunia yang berbeda. Diatas itu semua hal yang jauh lebih penting , dengan diberlakukannya CSR sebagai bagian dari ISO, akselerasi dan end result dari yang selama ini dilakukan, diyakini akan semakin mudah tercapai. Hasil akhir yang dimaksud adalah “… the commitment of business to contribute to sustainable economic development , working with employees and their representatives, their families, the local community and society at large to improve quality of life, in ways that are both good for business and good for development.” ( Definition of CSR The World Bank Group version )

Kedua, bagi mereka yang berfikir dan bertindak short run, hal ini tentu saja akan dilihat sebagai komponen biaya baru yang terpaksa harus dicadangkan. Karena jika tidak akan mengganggu rantai proses produksi. Entah kecaman dari sejumlah aktivis atau bahwa ancaman boikot dari buyer atau end user. Terhadap pilihan – pilihan diatas, tentu akan dipengaruhi oleh referensi dan kematangan kita melihat fenomena yang sedang terjadi saat ini.

Yang menarik bagi Indonesia adalah, masih sangat sedikit pelaku bisnis yang aware terhadap isu ini. Dari yang sedikit aware pun masih terjadi perbedaan sudut pandang dan pemahaman apa dan bagaimana sesungguhnya CSR di perusahaannya masing-masing. Ada sejumlah kalangan yang menjadikan CSR sebagai bagian yang ditempelkan kepada social marketing dan tidak sedikit yang masih menerapkannya sebagai charity acitivity yang dilakukan bersamaan dengan peringatan ulang tahun perusahaan bahkan ketika terjadi bencana alam misalnya. Kondisi ini, jika tidak segera disiasati untuk segera dipecahkan sendiri formulasinya, dapat dipastikan akan dipaksa untuk mengikuti standard yang akan diterapkan oleh lembaga ISO tadi, tanpa pandang bulu. Jika sudah begini kondisinya, yang akan kita terima tentu saja pemaksaan – pemaksaan kehendak yang belum tentu sesuai dengan kondisi yang ada di Indonesia. Meskipun demikian, harapan kita penerapan ISO 26000 ini menjadi stimulir bagi tumbuhnya mentalitas pelaku bisnis yang lebih peduli dan memberi manfaat yang lebih banyak kepada masyarakat sekitar perusahaan berada.

Penutup

Untuk menghadapi diberlakukannya ISO 26000 di tahun 2008, mutlak dan penting rasanya bagi individu, komunitas bisnis, maupun lembaga – lembaga non pemerintah yang telah memiliki kompetensi untuk menyumbangkan pemikirannya mengenai CSR untuk bersedia secara sukarela melibatkan diri secara aktif dalam proses penyusunan standarisasi ini. Komitmen ini, sebagai bagian dari proses pembangunan karakter nasional (national character building) yang memiliki hak untuk terlibat dalam proses penyusunan kebijakan – kebijakan global yang akan diberlakukan (juga) di Negara ini. Ide konsorsium nasional yang mewakili kepentingan Indonesia, layak untuk segera dibuat dan bekerja bersama mengajukan sejumlah gagasan bagaimana seharusnya ISO 26000 diterapkan di Indonesia. Bukan saatnya lagi kita hanya menjadi objek dari sebuah kebijakan global, saatnya untuk bangkit berdiri dengan penuh percaya diri untuk melibatkan diri, karena Indonesia adalah bagian dari komunitas global yang penuh dengan kepentingan dan kesempatan. ISO 26000 seharusnya menjadi kepentingan dan kesempatan bangsa Indonesia untuk mendapatkan manfaat lebih banyak dari keberadaan sejumlah Multi National Coorporations dan perusahaan lokal yang melakukan aktivitasnya disini. Selamat Datang ISO 26000.


Disclaimer :
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mewakili pendapat organisasi dimana penulis beraktivitas.

03 December, 2005

Mangga Dua : Percaya Ga Percaya

Sabtu, 3 Desember 2005. Ketika sebagian besar orang tua sedang bercengkrama dengan keluarga dan anak-anaknya. Saya masih di Lantai 4 Mangga Dua Orion. Gila!
Pasalnya adalah sudah tidak ada toko yang buka, tidak ada lagi transaksi para pedagang DVD bajakan dan juga para mbak- mbak tukang jualan juice. Norak apa Sakti?

Ga keduanya, karena dari kejadian yang saya alami hari ini, semakin nyata bahwa kita tidak bisa mengelola masalah. Karena masalah tidak bisa kita prediksi apalagi kita atur. Masalah dan permasalahan memang cuma dan seharusnya digenggam. Karena dia memiliki logika dan kehendaknya sendiri. Rencana yang diharapkan cepat bisa menjadi lama. Keuntungan dan kemudahan, terkadang harus berbalas dengan kerugian dan banyak kesulitan. Kemakmuran acapkali berganti dengan kesengsaraan. Popularitas bahkan berubah wujud menjadi kehinaan. Disanalah seni menjalani hidup dan mematangkan kepasrahan kepada Sang Khalik.

Begini ceritanya, siang tadi selepas kondangan ke tetangga, saya ditemani Tasya dan Lia, niat ke Orion cuma mau mindahin data dari Outlook di Tecra 8100 ke VAIO yang baru dibeli-in kantor. Ketika pekerjaan tersebut berjalan, koq dengan santainya sejumlah virus menyerang. Sejumlah program dan data yang ada di VAIO, terpaksa harus di perbaiki. Gila ! Jadilah malam mingguan di salah satu toko di Orion...

Kenapa harus ngotot? Tinggalin aja kan bisa?
Hmm... ga bisa! I need time for my Mbay. Besok enakan nonton kuda di ArthaYasa Stable dan saya harus berangkat pagi di hari berikutnya, Senin 5 Desember. NAD, menanti untuk kesempatan ketiga. Jadi harus... harus selesai malam ini. Begitu yang saya katakan ke A Hong, taknisi di Orion ini. We make deal!

Kembali, apakah masalah ini saya inginkan, TIDAK SAMA SEKALI!
Tapi, sekali lagi pembaca, saya belajar sesuatu dari A Hong. Dia lulusan SMEA dari Bangka Belitung dan sangat piawai menguasai bahasa komputer. Apa rahasianya? Kerja keras, ulaet dan mau belajar. A Hong... mulai pegang komputer 1999 dan dia tidak pernah mengenyam pendidikan formal untuk ini.
Kerja keras, Ulet dan dan Mau Belajar, pelajaran yang saya dapat dari Mangga Dua, malam ini. Percaya Ga Percaya

04 August, 2005

Ketika Dinamika Menjadi Dilema : Catatan Pelaksanaan Kongres III ASPEK Indonesia

Pengalaman menjadi peserta sekaligus panitia pelaksana Kongres III ASPEK Indonesia (selanjutnya disebut Kongres), cukup miris dan menyedihkan rasanya, memperhatikan dinamika yang terjadi dan berkembang selama Kongres ternyata berbuah menjadi dilema, bahkan sejak persidangan pertama baru digelar. Terlampau kasat mata, bagaimana polarisasi terjadi antara status quo dengan reformasi, jika boleh penulis mendefinisikannya demikian. Karena polarisasi yang kaku, akhirnya, dinamika Kongres terjebak kepada bagaimana setiap materi diskusi dan usulan pendapat, senantiasa dan semata-mata dihitung, apa pengaruhnya terhadap kubu saya? Melupakan substansi dari pelaksanaan Kongres itu sendiri. Bagi saya, Kongres adalah sebuah perhelatan untuk mendiskusikan secara bersama, hal – hal strategis yang diperlukan organisasi untuk mengantisipasi perubahan yang akan datang. Diskusi dan perdebatan, sekali lagi hanya berkutat kepada apa pengaruhnya terhadap proses pemenangan kandidat para kubu yang bertarung memperebutkan posisi Sekretaris Jendral dan Presiden. Sehingga, platform terlebih dahulu baru bicara person. Sayangnya hal ini tidak terjadi dalam pelaksanaan Kongres yang digelar pada tanggal 23 - 24 Juli lalu. Akhirnya, nilai dasar serikat pekerja yang selama ini dihembuskan melalui training – training yang dilaksanakan, seakan-akan sembunyi tanpa pernah berani memunculkan diri, “solidaritas” seakan diistirahatkan dan tidak muncul dalam Kongres. ASPEK Indonesia seakan menjelma menjadi partai politik yang hanya concern kepada kekuasaan.

Menurut hemat penulis, kesiapan pengurus SP afiliasi yang menghadiri Kongres, nampaknya perlu ditingkatkan. Agar perdebatan yang terjadi bisa merata dan disadari konsekuensi -konsekuensinya. Ada beberapa kondisi yang menurut kami perlu dijadikan catatan. Pertama, mekanisme atau alur pencalonan KEN. Hal ini menjadi salah satu penyebab biang kericuhan, karena ada interpretasi, yang harus diakui, merupakan kelalaian bersama terkait dengan adanya dua matra waktu untuk menyerahkan kandidat KEN, 15 hari menurut Bab VI Tentang Kongres pasal 5 dan 14 hari menurut Bab IX tentang Komite Eksekutif Nasional pasal 5, kondisi ini diperumit dengan surat dari SC dan KEN yang menyatakan batas waktu pengembalian kandidat dan usulan perubahan pada tanggal 10 Juli 2005. SC harus lebih jujur dan arif memberi kesempatan kepada floor untuk memahami, terutama konsekuensinya terhadap rendahnya partisipasi politik publik. Mengapa demikian? Karena salah satu parameter keberhasilan sebuah proses pemilihan adalah tinggi rendahnya partisipasi publik, dalam hal ini afiliasi makin tinggi afiliasi yang terlibat makin legitimate, begitu sebaliknya. Jangan sampai proses pemilihan KEN tidak memperhatikan quorom. Permasalahan ini, seharusnya bisa dipecahkan dengan memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya kepada delegasi, dimana plus minusnya bagi tujuan utama Kongres. Bukan dijadikan senjata dari masing-masing kubu untuk mengambil keuntungan. Kedua, konsistensi, tidak ditemukan selama Kongres, justifikasi dan proses pengambilan sanad hukum, terlihat dipilah dan dipilih hanya dan semata untuk kepentingan kelompok. Kadang menuntut implementasi dari konstitusi secara konsisten sementara pada kesempatan lain meminta ajdustment. Ketiga, konsiderans dan hasil Kongres II seharusnya menjadi salah satu dokumen resmi bagi pelaksanaan Kongres III. Sehingga, terhadap hal – hal yang menyentuh masa lalu dapat diantisipasi dengan menghadirkan bukti-bukti yang autentik, sehingga tidak perlu muncul fitnah dan kebingungan massal. Karena ketiga penyebab diatas, dengan sangat terpaksa Kongres berakhir dengan realitas yang tidak mengenakan bagi semua pihak, yang status quo maupun pihak reformasi. Bagi pihak reformis yang kebetulan memenangkan seharusnya menjadi kegalauan ketika eksistensinya tidak didukung oleh mayoritas. Sementara bagi status quo, bisa saja akan menimbulkan pertanyaan, sejauh mana legitimasi KEN hasil kongres, legitimasi dalam arti jumlah afiliasi yang melakukan pemilihan, jika dibahasakan secara populer, “lha emang siapa yang milih?”. Ketidakenakan atas kondisi ini, harus segera dipecahkan dicarikan solusinya. Rekonsiliasi, rasanya bisa menjadi pilihan untuk dikedepankan, dibandingkan jika harus membuat organisasi tandingan. Hal ini bisa terjadi jika para pihak mau dan mampu mendengarkan sekaligus mengakomodir kepentingan masing-masing, sesuai dengan tujuan akhir dari rekonsiliasi, yaitu terbangun ASPEK Indonesia yang akomodatif terhadap kepentingan seluruh afiliasinya, akomodatif terhadap kepentingan para pihak yang mewakili atau dipercaya oleh afiliasi. Mari jadikan ASPEK Indonesia berbeda!. Dinamika dan perbedaan terpelihara dengan ketaatan dan kesungguhan untuk mempertahankan nama besarnya. Biarkan ASPEK Indonesia menjadi nama dan organisasi tunggal di negeri ini.

Namun demikian, diatas itu semua, terhadap pekerjaan rumah terkait dengan dualisme afiliasi ke federasi atau asosiasi harus terus ditindaklanjuti dengan bukti dan tahapan legal formal, yaitu pengunduran diri secara tertulis kepada Federasi atau Asosiasi yang bukan ASPEK Indonesia. Sehingga, kredibilitas dan wibawa ASPEK dapat terjaga lebih baik lagi. Dengan demikian, publik percaya, bahwa bergabungnya salah satu atau beberapa afiliasi ke ASPEK Indonesia, tidak akan diduakan atau mendua. Selain bertentangan dengan peraturan perundangan, rasanya kondisi inipun telah menyentuh ruang-ruang etika berorganisasi. Saran penulis, KEN harus lebih proaktif melakukan screening terhadap status keanggotaan afiliasinya.

Kedepan, jika boleh beropini dan memberi saran, kita harus sama-sama mengoreksi diri, tidak perlu lagi terjebak kepada romantisme dan kekecewaan – kekecewaan. Mari bangkit dan hadapi realitas! Terlalu mahal harganya jika kita harus menjadi pecundang, jadilah pemenang sejati yang mampu menekan egoisme kalah dan menang. Masa depan ASPEK Indonesia adalah masa depan kita bersama, yang harus dibangun lagi dengan semangat solidaritas yang sesungguhnya. Bukan solidaritas semu dan sempit kepada aktifitas memenangkan kandidat semata.

08 July, 2005

The Only Constant is Change

Perubahan dan tuntutan akan perubahan, tampaknya menjadi kata yang umum diungkapkan oleh komunitas manusia yang "gerah" dengan stagnansi dan kualitas kehidupan yang biasa-biasa saja, atau yang itu- itu juga. Sehingga, dalam kerangka berfikir komunitas ini, hidup harus senantiasa berubah, dari waktu ke waktu. Tentu saja perubahan kearah yang lebih baik. Lebih maju dan lebih memberi manfaat bagi kehidupan yang sedang dijalaninya. Dalam konteks tempat dimana saya berorganisasi, ASPEK Indonesia, kata ini seakan menemukan momentumnya menjelang pelaksanaan KONGRES III, yang akan dilaksanakan pada tanggal 23-24 Juli 2005 yang akan datang.

Simbol perubahan, dimulai dengan keinginan untuk mengganti, aktor atau person yang menjadi representasi organisasi, yaitu Sekretaris Jendral dan Presiden, dua bagian penting dari Komite Eksekutif Nasional. Keinginan ini tentu saja harus dihadapi dengan sikap positif, penuh pertimbangan dengan tetap memberikan ruang bagi adanya keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru, yang berbeda. Dalam pemahaman saya, kontinuitas suatu organisasi seharusnya tidak akan berubah terlalu jauh jika "platform" organisasi telah dipahami dengan sebaik-baiknya oleh seluruh anggota afiliasi. Sehingga, kalaupun terjadi perubahan person yang menggawangi organisasi ini, visi, misi dan orientasi organisasi tidak menjadi sesuatu yang harus "diperjudikan". Karena perubahan person hanya akan bermain di ruang - ruang how to manage and style of leadership dari para mangernya. Karena perdebatan mengenai format organisasi telah dijaga dalam Konstitusi organisasi.

Perubahan, tentu saja akan diikuti dengan setidaknya dua tanggapan. Menolak atau Menerima. Tinggal sejauh mana kesiapan kita mengkalkulasi dampak dari perubahan yang mingkin akan terjadi. Bagi ekstrem menolak, karena kekahawatiran yang berlebihan atas kemungkian buruk yang akan terjadi yang distimulus oleh keengganan untuk lari dari "comfort zone", kondisi nyaman yang sekarang sedang atau masih dinikmati dan dijalani. Sementara bagi yang menerima, karena bisa jadi kalkulasi dan sikap mental positif yang senantiasa merasa bahwa mencoba sesuatu yang baru, akan mendatangkan kesempatan dan pengalaman-pengalaman baru serta tentu saja dilandasi oleh harapan - harapan baru.

Semoga saja, harapan akan adanya perbaikan dan kondisi menuju kearah yang lebih baik menjadi kalkulasi yang telah dihitung masak-masak oleh komunitas yang menghendaki perubahan. Sementara bagi yang menolak perubahan, bisa saja untuk mengajukan sejumlah kekhawatiran yang mampu dihitungnya kepada komunitas yang berani untuk berubah! Sehingga dampak negatif dari perubahan dapat diminimalisir sejak awal.

Selamat Berkongres ! Semoga menjadi Kongres yang berjalan dengan dinamis dalam koridor demokrasi yang rasional dan dewasa. Kita nantikan...

11 June, 2005

Tuhan, Ampuni Hamba ..

Berita ini saya ambil dari milist, yang sumber aslinya sepertinya dari Harian Warta Kota. Apapun kondisinya, berita ini sungguh memilukan hati, membuat marah sekaligus sampai menitikkan air mata.
Ya Allah, ampuni Hamba, karena sebagai warga negara yang sehari-hari bekerja di Jakarta, kejadian ini sungguh memilukan.


Salemba, Warta Kota

PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong
mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.

Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta-Bogor pun geger
Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seoran pemulung bernama Supriono (38thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono akan
memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa
KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas
dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan.

Di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi. Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi.

"Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang
untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya
hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,-per hari". Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu.

Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya.
Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski
Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.

Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa
menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00. Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau.

Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski hanya dapat termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans.

Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet.
Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus
jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka,
biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik.
Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong
Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang
pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan
oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan
penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun
dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet.

Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang
ambulans hitam. Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera
dimakamkan. Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan
surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa
yang terbujur kaku.

Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya
telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya.
Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalankaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng
tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya
untuk ongkos perjalanan ke Bogor. Para pedagang di RSCM juga memberikan air
minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.

Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku
benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut
karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli
terhadap sesama.

"Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung
jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga
Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap.
Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia",ujarnya.

Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz mengatakan peristiwa
itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan kesehatan
bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini, pemerintah hanya
memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin kata Wardah.

Innalillahi Wainnaillaihi Rodjiuun..
Semoga Adik Khaerunisa dapat tenang dan diterima disisiNYA dan Keluarga
yang ditinggalkan mendapat kemuliaan dan ketabahan. Amiin..

Change Management

Adalah dua kata   sakti yang selalu digulirkan bersamaan dengan   momentum momentum berikut : merger, akuisisi, perubahan Bord of ...